Lembaga Pengembangan Profesi Teknologi Mahasiswa Islam

UU Penataan Ruang; Mau Kemana……

Agustus 6, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Akhirnya setelah 15 bulan dibahas, Rancangan Undang-Undang Penataan Ruang (RUUPR) diteken dalam Rapat Panitia Khusus DPR RI dengan Menteri Pekerjaan Umum (21/3). Namun, setidaknya ada 4 (empat) hal yang masih menjadi perdebatan panjang, -bahkan oleh para ahli sendiri.

Pertama, kewenangan yang diberikan kepada Departemen Pekerjaan Umum (PU) sebagai penyidik dalam kasus pelanggaran tata ruang. Hal ini akan tidak saja menimbulkan tumpang tindih pelaksanaan di lapangan namun bisa terjadi terjadi ‘ambivalensi’ kewenangan. Kita tahu bahwa PU adalah departemen teknis yang bertugas salah satunya melakukan pembangunnan infrastruktur. Dalam artian PU sebagai operator pembangunan Indonesia. Nah dengan kewenangan yang diisyaratkan RUUPR tersebut maka PU selain sebagai operator juga sebagai regulator sehingga akan terjadi split personality di tubuh PU dalam menegakkan peraturan tata ruang.

Dengan kewenangan barunya, PU dapat saja ‘memutihkan’ berbagai pelanggaran dalam penyalahgunaan peruntukan lahan/kawasan yang ‘dibangunnya sendiri’. Seharusnya RUU menguatkan peran BKTR (Badan Koordinasi Tata Ruang) untuk melakukan peran tersebut, yang saat ini tidak ada kinerjanya yang berarti dengan maraknya pelanggaran dan penyalahgunaan tata ruang. Termasuk juga kemungkinan menguatkan Bapedal dan Bapedalda di daerah-daerah.

Kedua, visi RUUPR tersebut terlalu ‘planocentris’. Dalam artian pendekatan yang dipakai hanya bagaimana ‘memetak-petakkan’ wilayah peruntukan tanpa didasari pada konsep keberlanjutan lingkungan. Tokoh Lingkungan yang juga mantan Menteri Lingkungan Hidup, Prof. Emil Salim pertama, mengkritik RUU ini karena paradigma yang dipakai adalah dengan pendekatan wilayah bukan pendekatan ekosistem. Sehingga penataan ruang ke depan hanya berorientasi pada pembangunan fisik semata dan tidak memikirkan dampak lingkungan yang ditimbulkan dari pembangunan tersebut, seperti halnya saat ini. Emil Slaim juga mengharapkan RUU ini lebih berpihak kepada lingkungan.

Ketiga, keruangan kawasan lautan dan pesisir, dalam RUU ini masih sangat terkesan land vision. Semua tahu, Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri atas 17.508 buah pulau dan memiliki pantai terpanjang kedua di dunia (kira-kira sepanjang 81 ribu Km2) setelah Kanada dengan luas Zona Ekonomi Eksklusif lautan sebesar 7,.7 juta km2. Fakta tersebut seharusnya menyadarkan kita akan jati diri kita sebagai Negara maritime. Sehingga dalam isu tata ruang lautan dan pesisir dapat diakomodasi dalam RUU dalam kerangka yang lebih dilihat dari sudut pandang continental vision. Hal ini juga untuk menjadi konsideran sebelum RUU Pengembangan Wilayah Lautan Pesisir menjadi agenda pembahasan DPR berikutnya.

Keempat, adalah pendekatan geostrategis. Sering kita lupa, dari ribuan pulau yang kita miliki, terdapat 92 pulau terluar Indonesia, meliputi 141 kabupaten/kotamadya yang berada di 14 propinsi, yang merupakan daerah perbatasan dengan 10 negara tetangga. Sehingga persoalan penanganan dan pengawasan daerah perbatasan menjadi sesuatu yang tidak mudah. Setelah 2 peristiwa penting masing-masing lepasnya bekas propinsi Timor Timur tahun 1999 dan menjadi negara merdeka, dan menangnya pihak Malaysia dalam sidang Mahkamah Internasional di Den Haag tahun 2003 terhadap kepemilikan Pulau Ligitan dan Pulau Sipadan dan kini dengan masih memanasnya blok Ambalat harusnya menyadarkan kita untuk merubah orientasi dan pendekatan daerah perbatasan.

Anggapan di masa lalu, yang lebih mengutamakan pada pendekatan keamanan (security approach) daripada pendekatan kesejahteraan (prosperity approach), telah mengakibatkan wilayah perbatasan ini, baik daratan maupun pulau-pulau terluar, menjadi daerah yang nyaris tidak tersentuh oleh dinamika pembangunan, kurangnya infrastruktur dan pusat-pusat pelayanan pemerintah lainnya yang menyebabkan masyarakatnya menjadi relatif miskin dan tertinggal, sehingga yang melatarbelakangi pula maraknya kegiatan-kegiatan ilegal seperti illegal logging, illegal trading, maupun traficking.

Seyogyanya Departemen Pertahanan fokus pada hal terakhir di atas dalam menyatukan persepsi untuk memberdayakan kawasan perbatasan dan pulau-pulau terdepan Indonesia. Bukan isu-isu lain yang kurang strategis -pendaratan pesawat di jalan umum, ruang latihan bagi tentara-. Upaya penjagaan wilayah perbatasan nasional yang begitu luas tidak semuanya bisa diselesaikan dengan pendekatan militer. Pendekatan geostrategis dengan penataan ruang merupakan pendekatan yang bisa menjaga keutuhan wilayah nasional khususnya daerah perbatasan.

Menurut data Departemen Pertahanan pula, Indonesia mempunyai potensi konflik perbatasan yang mirip Sipadan-Ligitan yang telah usai, (juga saat ini masih memanasnya blok Ambalat) dengan hampir seluruh negara yang berbatasan langsung. Pulau-pulau yang berpotensi itu adalah ; Rondo di Sabang, Berhala dan Nipah di Selat Malaka, Sekatung di Kepulauan Natuna, Marore, Miangas, Beras di Papua, serta Pasir di selatan Nusa Tenggara Timur. Diprediksi, setelah memanasnya konflik Pulau Ambalat adalah Pulau Nipah yang berbatasan dengan Singapura dan Pulau Sekatung di Kepulauan Natuna yang berbatasan dengan Vietnam. Inilah yang harus diterjemahkan departemen pertahanan dalam mengkritisi dan mempersiapkan peraturan perundangan berikutnya. Belum lagi potensi minyak dan gas yang terkandung di kawasan perbatasan ini. Di Natuna, salah satu pulau yang berbatasan dengan Singapura, memiliki 377,2 juta barel cadangan minyak serta menyimpan cadangan gas alam terbesar dengan kisaran 54,2 triliun kaki kubik.

Terakhir perlu kearifan lagi baik oleh pemerintah maupun DPR sebelum RUU Penataan Ruang ini disyahkan, supaya jangan terkesan terburu-buru. Karena banyak permasalahan lingkungan akibat dari ketidak-pekaan kita dalam pembangunan dan perencanaan tata ruang yang segera perlu dibenahi secara mendasar.

→ Tinggalkan KomentarKategori: tata ruang

Dunia Baru, Perang Baru

Juli 12, 2007 · & Komentar

Selepas Perang Dunia II yang memunculkan kekuatan negara baru sebagai negara “adi daya” karena faktor kemenangan dan kekuasaan yang diperole pasca Perang Dunia II tersebut. Persaingan terbuka akhirnya timbul antara Blok Amerika Serikat dan sekutunya dengan Uni Soviet (Ruasia) dan sekutunya. Pergeseran kekuatan ini  dikenali sebagai Perang Dingin kerana ia tidak melibatkan pertempuran bersenjata secara langsung antara kekuatan besar (perang “panas”) secara besar-besaran. Perang Dingin dijalankan melalui tekanan ekonomi, bantuan terpilih, pergerakan diplomatik, propaganda, pembunhan, operasi ketentaraan tahap rendah dan perang provokasi sepenuhnya antara 1947 hingga kejatuhan Uni Soviet pada 1991. Istilah ini dipopulerkan oleh penasihat politik AS Bernard Baruch pada April 1947 semasa perdebatan mengenai Doktrin Truman yang menghendaki perluasan jaminan sosial, penghapusan pengangguran, pembagunan  perumahan rakyat dan pembagunan kembali daerah-daerah kota yang sudah rusak.
Perang Korea, Krisis Kuba, Perang Vietnam, Perang Afghanistan, dan kudeta kekuasaan yang dibantu CIA teradap pemerintahan yang condong ke kiri, -karena berhubungan komunis, sosialis dan Rusia-, seperti di Iran (1953), Guetemala (1954) dan Chile (1973) merupakan kejadian dimana ketegangan berkait dengan Perang Dingin mengambil bentuk dalam peningkatan dan perlombaan senjata. Dalam perlombaan senjata itu, terutamanya Amerika Serikat, beroperasi sebagian besarnya dengan membekalkan senjata dan uang kepada kelompok penentang dalam rangka menggangu dan mengurangi pengaruh Rusia di negara tersebut. Termasuk didalamnya konflik Arab-Isrel yang masih, –dan tetap-, bertahan hingga kini.
Pada tahun awal tahun 1970-an, Perang Dingin telah memunculkan pergaulan perhubungan antarabangsa menjadi semakin rumit dimana dunia dipecahkan kepada dua blok perasingan yang nyata. Satu ciri utama Perang Dingin adalah perlombaan senjata antara Uni Soviet dan NATO, terutamanya Amerika Serikat termasuk juga Inggris, Perancis dan Jerman Barat. Perlombaan ini berlaku dalam berbagai bidang teknologi dan militer yang menghasilkan banyak penemuan saintifik. Kemajuan revolusioner terutama dalam bidang rket, yang mendorong kepada perlombaan angkasa. Dan  yang harius digarisbawahi adalah kebanyakan atau semua roket yang digunakan untuk meluncurkan manusia dan satelit untuk sampai ke bulan merupakan rekabentuk bidang kemiliteran. Bidang lain dimana perlombaan senjata berlaku termasuk jet tempur, pengebom, senjata nuklir, senjata kimia, senjata biologi, rudal anti pesawat maupn satelit pengintai dan banyak lagi teknologi. Semua bidang ini memerlukan keahlian tinggi dari segi teknologi dan pembuatan. Dalam kebanyakan bidang, negara Barat telah mampu menciptakan senjata dengan fungsi yang efektif, terutamanya disebabkan oleh ambisi kenkuasaan dan pengaruh kejayaan masa lalu disamping kepentingan ekonomi dan politik dalam mendukung kepentingan militer ini.
Akibatnya, negara-negara yang kurang mampu atau negara dunia ketiga menjadi lebih berdikari. Dan puncaknya adalah berdirinya Gerakan Nonblok tahun 1961 pada saat memuncak Perang Dingin. GNB lahir untuk mengimbangi pertarungan ideologis antara Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.
Namun sejak runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, kekuasan dunia baru praktis di pegang oleh Amerika Serikat. Dengan kondisi seperti ini seharusnya, dunia menjadi lebih damai. Akan tetapi usai Perang Dingin berakhir, ternyata perang dan konflik bersenjata masih muncul di mana-mana. Harapan akan terbentuknya dunia yang lebih aman dan damai ternyata masih sulit diwujudkan. Dunia masih terus dilanda kekacauan bukan hanya oleh konflik bersenjata dan gelombang kekerasan yang merebak di mana-mana, tetapi juga oleh ketimpangan sosial ekonomi, kemiskinan, pengangguran dan krisis lingkungan hidup. Jika ketegangan di era Perang Dingin lebih dipicu oleh pertarungan ideologis antara kapitalisme dan komunisme, saat ini dunia dilanda oleh masalah ketimpangan ekonomi dan tatanan dunia yang tidak adil.
Dengan paham kapitalisme ini, Amerika Serikat sedang menjalankan misinya, yaitu “Amerikanisasi Dunia”. Terbukti dengan tekanan ekonomi dam militer apapun keinginan AS tercapai, terkecuali kegagalan AS di Perang Vietnam dan Somalia. Kemungkinan kegagalan ini akan terulang di Irak terlepas keberhasilannya menumbangkan musuh besarnya di Timur Tengah, Sadam Husain. Kapitalisme telah gagal membawa kesejahteraan dunia. Saat ini dibelaan dunia Timur Tengah dan Amerika Latin tengah bergelora perang melawan hegemoni AS dan doktrin kapitalismenya.

Perlawanan Bersama; Bersiap Menyambut Perang Baru

Ketegangan dunia saat ini lebih dilatar belakangi pada satu hal, sumber daya minyak bumi. Ketika tahun 2001 harga minyak dunia masih 30 dollar AS per barrel, soal ini masih belum menjadi kekhawatiran nyata. Namun, setelah harga minyak melewati 70 dollar AS per barrel pada awal tahun 2007, konstelasi politik global pun berubah.
Negara-negara yang memiliki cadangan minyak bumi merasa lebih “powerful” menghadapi negara-negara kekuatan utama dunia yang merasa terancam aksesnya. Akibatnya, yang terjadi saat ini adalah strategi yang saling mengancam, baik antarnegara, bahkan antarblok. Perseteruan antara AS (Barat) dan Iran misalnya, bukan semata dilandasi karena kekhawatiran Barat bahwa Iran akan memproduksi senjata nuklir. Yang lebih utama adalah karena Iran memiliki sumber daya minyak kedua terbesar di dunia dengan cadangan terbukti 136,27 milyar barrel terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi dengan kemampuan produksi 4,1 juta barrel per hari.
Michael T Klare yang analisisnya mengenai perang Irak begitu jitu kini juga meramalkan hal serupa terhadap Iran, antara lain dia meyakini invasi itu bukan karena adanya senjata pemusnah massal ataupun keterkaitan rezim Saddam Hussein dengan Al Qaeda, tetapi karena kepentingan minyak AS. Klare juga menuliskan, andaikan AS menginvasi Iran, itu adalah demi sebuah “perubahan rezim” yang dapat melindungi kepentingan minyak AS. Dan kebenaran analisa Klare ini pada bulan April 2007 telah diakui oleh Departemen Pertahanan AS, setelah Sadam Husein dieksekusi gantung.
Coba kita mengingat kembali pidato Bush ketika akan menginvasi Irak? “Bila semua ambisi senjata pemusnah massal Saddam Hussein terealisasi, implikasinya sangat luar biasa bagi Timur Tengah dan AS. Dipersenjatai dengan senjata teror dan menguasai 10 persen cadangan minyak dunia, Saddam Hussein mungkin akan berupaya mendominasi seluruh Timur Tengah.”
Menurut Klare, jika kita mengganti kata “Saddam Hussein” dengan “para mullah Iran”, dan dengan penguasaan 12 persen cadangan minyak dunia dan 15 persen cadangan gas alam dunia maka akan memberikan ekspresi yang sempurna mengapa Bush bersiap untuk menginvasi Iran
Kita masih mengikuti bagaimana gigihnya Iran dalam menghadapi hegemoni AS dan Barat. Namun yang kini juga terlihat adalah sebuah “perlawanan bersama” dari negara-negara yang memiliki cadangan minyak bumi untuk menghimpun kekuatan dan meningkatkan posisi tawar mereka terhadap AS dan sekutunya.
Pada Mei lalu Wapres AS Dick Cheney di depan para pemimpin negara-negara bekas Uni Soviet di Kiev, Ukraina, menuduh Rusia telah “menggunakan minyak dan gas bumi untuk mengintimidasi para tetangganya”. Cheney merujuk pada perseteruan Ukraina (negara bekas Uni Soviet) dengan Rusia soal harga gas. Rusia sempat menghentikan pasokan gas ke Ukraina ketika Kiev berkeras tak mau menerima kesepakatan harga baru.
Tindakan ini dikecam negara-negara Barat. Namun, Rusia juga ingin “memberi pelajaran” pada Ukraina tentang siapa yang menjadi tuan di kawasan itu. Maklumlah, begitu Victor Yuschenko yang sangat pro-Barat terpilih menjadi PM Ukraina, kebijakannya sangat berorientasi pada AS dan barat. Ia “lupa” secara geopolitik, Ukraina sangat bergantung pada Rusia.
Perseteruan ini berlanjut panjang. Dengan dukungan AS, Azerbaijan, Georgia, Moldova, dan Ukraina meluaskan aliansi mereka (GUAM) dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan energi terhadap Rusia. Negara-negara ini akan membangun pipa minyak tanpa melewati Rusia, yaitu dari Laut Caspia ke Azerbaijan, kemudian ke Georgia dan langsung ke pasar negara-negara Barat. Jalur ini dinamakan jaringan Baku-Tbilisi-Ceyhan.
Bagi Moskwa, “kunci” dalam aliansi ini adalah Azerbaijan yang memiliki sumber daya gas alam melimpah. Oleh karena itu, Rusia berupaya “mengikat” Azerbaijan dengan beragam tawaran, termasuk keanggotaan dalam kesepakatan keamanan Rusia-China (ketiga negara lainnya sudah ditarik NATO). Azerbaijan cukup cerdas untuk membangun keseimbangan hubungan dengan Barat dan Rusia, sehingga negara itu memperoleh keuntungan dari kedua sisi.
Perlawanan sistematis juga datang dari “musuh-musuh” lama AS di Amerika Latin. Venezuela, Bolivia, dan Kuba, mengeratkan tangan mereka untuk menentukan masa depan Amerika Latin. Terpilihnya Evo Morales sebagai Presiden Bolivia menjadi “mimpi buruk” AS yang berangan-angan ingin “mendemokratisasi” halaman belakangnya dengan resep pasar bebas.
Bolivia sejak awal Mei lalu menasionalisasi seluruh perusahaan minyak dan gas alam di negara itu, di mana seluruh perusahaan energi asing harus menyetujui penyaluran seluruh penjualan hasil produksinya melalui Pemerintah Bolivia, atau segera angkat kaki.
Sehari sebelum pengumuman nasionalisasi, Morales bersama Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Fidel Castro dari Kuba bertemu di Havana untuk menandatangani “kesepakatan perdagangan sosialis”. Mereka bercita-cita “menyatukan Amerika Latin” melalui jaringan pipa minyak, dan menyebut aliansi ini sebagai sebagai Poros Kebaikan (Axis of Good), sebuah ledekan yang menohok Washington.
Meskipun tidak semua negara berpemerintahan kiri di Amerika Latin setuju dengan langkah-langkah nasionalisasi Bolivia (seperti Cile dan Peru), keberhasilan Morales telah memberi inspirasi tentang “kebangkitan melawan hegemoni AS” di seluruh kawasan. Hal ini akan berpengaruh pada para kandidat pemilu presiden di negara-negara Amerika Latin dalam meraih simpati rakyat, apakah mereka pro AS (yang diplesetkan menjadi pro-imperialisme), atau pro-sosialisme (pro-rakyat).
Para analis mengatakan, pergeseran yang terjadi di Amerika Latin ini karena AS terlalu lama “mengabaikan” kawasan ini setelah serangan 11 September 2001, dan kemudian terkooptasi oleh isu terorisme dan Timur Tengah. Namun, alih-alih melakukan pendekatan untuk merebut simpati, AS menerapkan pendekatan tangan besi.
AS menyikapinya dengan mengumumkan larangan penjualan senjata ke Venezuela, yang merupakan eksportir minyak nomor lima terbesar di dunia dan salah satu pemasok minyak terbesar bagi AS, dengan alasan “Venezuela tidak kooperatif dalam memerangi terorisme dan telah membahayakan stabilitas kawasan”. Washington mengumumkan embargo tersebut bersamaan dengan pengumuman pemulihan seluruh hubungan AS dengan Libya. Situasinya pun dibuat lebih dramatik, yaitu hanya sehari sebelum Hugo Chavez bertemu Moammar Khadafy di Tripoli.
Kini perusahaan-perusahaan minyak AS dan Eropa mulai berkompetisi untuk merebut akses ke Libya . Menurut Asisten Menlu AS David Welch Ini (sikap AS terhadap Libya) bisa menjadi contoh bagi Iran. Kepentingan minyak AS di Timur Tengah diyakini menjadi pertimbangan utama Washington untuk berbaikan dengan Libya, terlebih dengan meningkatnya ketegangan politik dengan Iran, situasi yang tak stabil di Irak, dan kondisi memanas antara Israel dan Palestina.
Dalam pidato kenegaraan 31 Januari 2007, Presiden George W Bush mengatakan, Pemerintah AS berencana mengurangi ketergantungan minyak pada Timur Tengah sampai 75 persen tahun 2025 dengan memfokuskan pada bahan bakar alternatif, seperti etanol dan biodiesel.
Beragam tanggapan muncul atas ajakan Bush ini. Ada yang pesimistis tapi tak sedikit yang optimistis. Menurut Statistik OPEC (2005), total impor minyak AS mencapai 60 persen, namun hanya sedikit yang berasal dari Timteng (beturut-turut lima pengimpor terbesar AS adalah Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria). Artinya, mengurangi ketergantungan dari Arab Saudi tidak akan menghapus ketergantungan AS terhadap pasokan minyak asing. Bahkan bila AS menghentikan total impor dari Timur Tengah pun, hal itu akan mendorong instabilitas politik di kawasan, karena harga minyak sangat terkait hal itu.
Namun, gagasan Bush untuk menggunakan etanol dinilai sudah pada arah yang tepat untuk jangka panjang. Saat ini industri etanol AS menghasilkan sekitar 9,5 miliar liter gasolin setiap, masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari di AS. Pihak yang optimistis menilai, penggunaan biodiesel bisa menggantikan 10-15 persen penggunaan total gasolin di AS, sama dengan menghapus 75 persen impor minyak dari Timur Tengah. Akan tetapi kebijakan ini mendapat tantangan keras dari kelompok pemerhati lingkungan. Dikarenakan tanaman pengasil etanol jyaitu jagung, singkong maupun jarak penghasil biodiesel sangat merusak lingkungan karena jenis tanaman yang monokultur.
Apa pun langkah AS di masa depan yang berkaitan dengan kebutuhan energinya, akan berpengaruh terhadap kondisi global. Namun, jangan salah, bukan hanya AS yang sudah mengambil ancang-ancang, para pemimpin lain di dunia pun bersiap mengantisipasi bahwa minyak dan gas akan menjadi senjata politik ampuh di masa depan.
Seperti apa yang dikatakan Richard Haass dalam Newsweek, mulai kini latihan perang-perangan akan lebih banyak membahas tentang anjloknya pasokan minyak dan naiknya harga minyak global daripada pengerahan tank-tank dan kendaraan lapis baja menuju perbatasan. Maka bersiaplah menyaksikan Perang Teluk III dari Iran pasca keluarnya Resolusi 1747 PBB akibat kegigihan Iran mempertahankan Progam Nuklir Damainya. Dan bersiap juga menyambut spirit perang baru dari Amerika Latin dengan Revolusi Bolivarian-nya.

→ 2 CommentsKategori: kajian

Ohh, LUSI… Oh…

Mei 7, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

BENCANA LINGKUNGAN ATAS SEMBURAN LUMPUR SIDOARJO

Fenomena semburan lumpur panas (hot mud flow) di Sidoarjo telah menimbulkan dampak yang luas yang tidak diperkirakan (intangible) sebelumnya. Pemblokiran jalan tol, jalan arteri, dan rel kereta api oleh ribuan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) 1 di kawasan Porong Sidoarjo selama 2 hari beberapa waktu yang lalu, yang mengakibatkan ekonomi jawa timur terguncang, merupakan salah satu contoh paling aktual. Sebagian pengamat memperkirakan kerugian perokonomian Jatim akibat blokade korban lumpur tersebut mencapai 2 trilyun (PDRB Jatim per hari sekitar 1 trilyun), atau setara dengan seperempat kerugian banjir Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dampak ini kedepan sulit diperkirakan dan dihitung karena menyangkut aspek yang lebih luas (sosial dan politik, termasuk psikologi).Sedangkan dampak langsung yang terkait dengan lumpur Sidoarjo adalah terendamnya rumah warga termasuk terendamnya jalan tol Porong Gempol di sekitar pusat luberan lumpur. Dampak tidak langsung adalah dampak yang terkait dengan matinya atau terganggunya perekonomian akibat luberan lumpur tersebut, seperti hilangnya mata pencaharian penduduk karena sawahnya terendam lumpur, hilangnya pekerjaan penduduk akibat pabriknya terendam, terganggunya aktivitas distribusi barang menuju kota Surabaya akibat jalan tol ditutup dan sebagainya.Itulah beberapa dampak lingkungan sosial yang diakibatkan oleh keceroboan dengan dalih efektifitas dan ekonomis dari kegiatan eksplorasi pertambangan migas. ”Lusi” adalah pelajaran berharga bagi industri pertambangan migas nasional dan di belahan bumi manapun. Bahwa ada keterkaitan / interaksi yang erat antara kegiatan eksplorasi migas dengan dampak lingkungan yang harus diantisipasi dan dikelola. Keterkaitan ini adalah dalam setiap proses eksplorasi harus selalu memperhitungkan dampak bagi lingkungan hidup sekitar eksplorasi dengan setiap pilian aplikasi teknologi eksplorasi.Selain itu setiap kegiatan eksplorasi harus mengedepankan harmonisasi kegiatannya dengan faktor-faktor lingkungan dan sosial sekitar lokasi eksplorasi. Terlebih eksplorasi sumur Lapindo berada dekat -di tengah-tengah- pemukiman. Sehingga bisa saja kegiatan ini merusak suasana lingkungan sekitar. Dan dengan adanya kasus semburan ini, maka rusaklah harmoni tersebut. Karena tidak bisa disangkal bahwa adanya saling ketergantungan / inter-dependensi antara kegiatan eksplorasi dengan kondisi lingkungan dan sosial secara timbal balik. Ketergantungan ini adalah bagaimana tetap terjaminnya keberlangsungan proses eksplorasi jika kondisi sosial-lingkungan sekitar lokasi eksplorasi juga mendapatkan manfaat yang sama. Misalkan dengan terbukanya peluang usaha baru dengan keberadaan ekpolrasi migas ini. Selain itu, adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan pengetahan masyarakat akan pentingnya migas bagi sumber devisa negara. Pihak industri sangat berkepentingan dengan al ini dan sangat tergantung bagaimna persepsi masyarakat akan kegiatan eksplorasi ini.Terlepas dari ketergantungan tersebut di atas, dengan adanya kasus ini maka, kedepan yang lebih penting adalah dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi yang semakin meningkat, harus ada diversifikasi energi terbaharukan. Harus ada keragaman / diversity sumber energi primer selain migas. Misal dengan mengoptimalkan energi matahari, anginm, arus laut yang nyata-nyata adalah sumber kekayaan energi tak terbatas Indonesia . Untuk itu sesegera mungkin dilakuikan pengelolaan yang lebih holistik dan komprehensif demgan mempertimbangkan dampak-dampak tersebut di atas. Pengelolaan ini mulai saat ini dimana lumpur masih terus mengalir, -belum bisa diprediksi kapan berakhir- dan pasca semburan lupur, -jika kedepan semburan berehenti. Namun demikian yang paling utama adalah bagaimana menangai dampak sosial, menyelamatkan manusia dari bencana ini. Inilah tujuan utama dari pengelolaan semburan lumpur sidoarjo ini.Pengelolaan secara holistik tetap mempertimbangkan kejadian yang selalu berkembang dan berubah setiap saat, dimana;1. Tujuan utama setiap tindakan yang diambil adalah menyelamatkan manusia dari kejadian ini. 2. Pemetaan luasan genangan lumpur, (bisa saja daerah antara sungai Porong dan Sungai Kali Mas) untuk mengevakuasi semua warga masyarakat dan infrastruktur keluar dari daerah yang dipetakan akan tergenaga lumpur.3. Kejadian munculnya kombinasi MudVolkano – Hydrothermal (tanpa melihat apa yang menyebabkannya) ini baru pertama kali didunia. Sehingga tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki pengalaman dalam hal menanganinya. 4. Semua tindakan baik menutup maupun mencegah dampak (permukaan) memang memerlukan penelitian. Tetapi keduanya diburu-buru dan saling berkejaran. Meneliti bisa dilakukan sambil menangani. Hanya yang harus diperhatikan adalah setiap penanganan harus didasari alasan ilmiah yang tepat. Apapun alasannya harus ada dan dapat dijelaskan secara terbuka. 5. Proses ini sangat dinamis, gejala-gejala di awal kejadian, dimasa transisi (minggu-minggu awal), serta kondisi saat ini sudah sangat berbeda. Misal, jumlah lubang semburan pada waktu awal, ukuran diameter lubang yg berkembang, volume dan jenis material yang keluar dari dalam lubang , kondisi bawah permukaan (suhu, tekanan, rekahan) dll. Termasuk pula kejadian lain adalah munculnya lokasi sewmburan baru di rumah warga sekitar lokasi semburan utama.6. Pelibatan semua stakeholder, eksekutif (pemerinta pusat&daerah), legislatif, perusahaan, tokoh masyarakat, NGO, ahli/akademisi, dan masyarakat sekitar semburan lumpur sebagai objek sekaligus subjek.

Pengelolaan secara holistik diharapkan dapat menghindarkan dari kepunahan massal (mass extinction) yang mungkin nsaja dapat terjadi dengan adanya sebuah tori baru “Impact from the Deep”, kepunahan masal yang datang dari Bumi sendiri. Dimana teori dilhami oleh judul sebuah film “Deep Impact” yang menceritakan bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memunahkan kehidupan di Bumi.Semburan LUSI (lumpur sidoarjo) yang terdiri dari 30% padatan dan 70% air
koloid memang membutuhkan pengelolaan yang spesifik. Padatan yang 30% ini sudah mengendap dan tidak akan bisa jalan, jika akan dibuang ke laut harus diangkut dgn mobil, misalnya disedot yang akan tersedot hanya yang dekat dengan sedotannya saja. Jika dialirkan ke kali Porong maka akan terjadi sedimentasi DAS. Saat ini kali Porong debitnya sangat sedikit, banyak kelokan sehingga endapan bisa menggunung. Akibatnya adalah sangat fatal. Bagi Surabaya karena kali Porong ini disiapkan untuk sodetan banjir Kali Brantas.
Karena jika jika dialirkan per laut, dalam hal ini selat Madura, aliran permukaan akan membuat sedimentasi dan sangat menggangu jaluru pelayaran. Jika dibuang kelaut bisa memanfaatkan pipa denga kedalamaan di bawah daerah thermoklin agar tidak naik ke permukaan. Jika ini terjadi, air lumpur akan membuat selat madura menjadi keruh. Selat madura saat ini menjadi menjadi tumpuan banyak orang untuk mata pencaharian, bahkan sudah sering terjadi carok di tengah-tengah selat antara warga Pasuruan-Probolinggo dengan nelayan Madura gara-gara merebutkan wilayah tangkapan ikan. Yang menarik juga di selat Madura adalah karena adanya ikan anchofish yang disukai ikan hiu tutul yang akan masuk. Indikasinya adalah beberapa kali ikan hiu tutul telah ditangkap nelayan pantai Kenjeran. Sehingga dalam pembuangan lumpur ini harus lebih bijak mempertimbangkan fator sosial ini dan harus selalu konsultasi dengan pihak dan warga masyarakat daerah yang akan terkena dampakKemungkinan terbaik, dari yang terburuk, adalah dibuang ke tambak-tambak di pantai sebelah timur Sidorjo sehingga bisa dijadikan reklamasi pantai. Saat ini dalam keadaan darurat, sehingga harus segera dimbil tindakan pengelolaan. Walaupun terjadi kontroversi nantinyan. Pilihan sekarang adalah, penyelamatan ribuan jiwa manusia dan harta bendanya itu atau kembali lumpur itu itu terus mencari lokasi endapan baru, mengendap di kali Porong, mengendap di laut ataukah di tambak-tambak?Apapun pilihan pengelolaan arus tetap mempertimbangkan daya dukung lokasi buangan lumpur agar keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan yang semula ada baik di DAS, laut / selat Madura maupun tambak masyarakat tetap terjamin dengan keberadaan pengelolaan lumpur Lapindo tersebut nantinya.

→ Tinggalkan KomentarKategori: bencana · lingkungan

KESELAMATAN TRANSPORTASI

April 23, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

BADAI PASTI BERLALU…

      Timnas EKKT telah melakukan tugasnya dalam menginvestigasi, mengevaluasi dan merekomendasikan guna perbaikan manajemen sistem transportasi nasional. Hasilnya, pemerintah menetapkan 20 parameter untuk evaluasi maskapai penerbangan. Selanjutnya ke-20 parameter ini nanti yang akan dipakai tim evaluasi (para ahli) untuk menilai (mengkategorikan) maskapai penerbangan. Kategori dibagi tiga yaitu kategori 1, nilai di taas 162, kategori 2 nilai 120 – 162 dan kategori 3 nilai di bawah 120. Pada kategori terakhir ini maskapai penerbangan perlu ditinjau kembali operasionalnya. Hasilnya tidak satupun maskapai penrbangan pada kategori satu. Artinya semua maskapai penerbangan yang beroperasi tidak sepenuhnya memenuhi standartmanajemen keselamtan transportasi penerbangan. Sungguh ironi dan diluar logika profesionalisme. Armada penerbagan ini khan mengangkut orang bukan barang atau binatang.

      Sebenarnya hasil ini tidak jauh berbeda dengan apa yang telah penulis kemukakan analisis risk management sejak beberapa waktu lalu dalam analisis audit manajemen keselamatan transportasi nasional.

      TraDC, sebuah lembaga yang memfokuskan diri dalam masalah transportasi, melihat bahwa manajemen sistem keselamatan dibagi dalam ruang lingkup system inventorry, maintenance (perawatan) dan operasional. Ruang lingkup ini juga mencakup operator penerbangan dan layanan bandara.

      Dalam standar manajemen keselamatan, maskapai penerbangan harus membuat kebijakan sesuai dengan sifat dan skala resiko operasional penerbangan, di dalamnya meliputi komitmen untuk melakukan continue improvement, komitmen untuk mematuhi peraturan perundangan serta persyaratan lainnya. Kebijakan harus didokumentasikan, diimplementasikan dan dipelihara. Ini semua dimaksudkan agar semua karyawan mengetahui tanggung jawab mereka secara individu, dan terpenting untuk menunjang keberlangsungan jalannya sistem manajemen keselamatan yang diterapkan. Semua kebijakan harus di-review secara periodik untuk memastikan bahwa kebijakan tersebut tetap relevan dan sesuai untuk perusahaan. Top management harus secara berkala mengkaji sistem manajemen keselamatan untuk memastikan kesesuaian, kecukupun dan efektifitasnya. Dalam artian top management mempunyai tanggung jawab terhadap efektifitas sistem dan feasibilitas sistem keselamatan perusahaan secara menyeluruh.

      Untuk menjamin terimplementasinya kebijakan manajemen keselamatan, maskapai pemerbangan diharuskan membuat “planning for hazard identification, risk assessment and risk control”. Planning ini semacam metodologi dalam melakukan identifikasi bahaya dan penilaian resiko. Sehingga maskapai harus mendefenisikan bahaya dan resiko sesuai dengan ruang lingkup, skala dan waktu untuk memastikan maskapai penerbangan lebih proaktif daripada reaktif.     

Audit

      Evaluasi maskapai penerbangan yang sementara dilakukan pemerintah, selain menggunakan 20 parameter tersebut seharusnya dipertimbangkan pula audit manajemen keselamtan yang didasarkan pada job hazard analysis dan job safety analysis, yang diturunkan dalam daftar checklist seputar standar manejemen keselamatan maskapai penerbangan dalam tiga ruang lingkup di atas (inventory, maintenance dan operasional). Hasil audit ini lah yang akan menghasilkan audit value yang dijadikan dasar predikat maskapai penerbangan dalam kategori keberhasilan implementasi manejemen keselamatan. Pertama, predikat emas. Predikat ini diberikan jika hasil audit mempunyai nilai lebih dari 85%. Kedua, predikat perak, jika nilai antara 60 % – 85 %, dan ketiga, predikat non confirmatted, jika nilainya kurang dari 60 %. Dalam kondisi terakhir maka maskapai penerbangan mendapat sangsi dari instansi terkait, dan dapat disimpulkan bahwa implementasi sistem manajemen keselamatan dapat dipastikan sangat buruk. Dan tidak ada satupun maskapai memiliki peringkat emas. Analisa sama hasilnya ini ketika masih kerap terjadi kecelakaan armada kereta api pada tahun 2005-2006. Bagaimana dengan transportasi laut. Setali tiga uang. Bahkan lebih parah lagi, karena mayoritas kapal-penumpang yang berlayar di lautan Indonesia sudah berumur diatas 25 tahun bahkan ada yang mencapai 40 tahun. Terus mau gimana lagi?

Sehingga kedepan, setelah pelaksanaan audit dan evaluasi sistem manajemen keselamatan  yang mencakup system inventorry, maintenance (perawatan) dan operasional diimplemnetasikan tentunya  kasus-kasus kecelakaan yang sering terjadi mestinya dapat diprediksi (“predictable” bukan “unpredictable”). Masa depan trasnportasi nasional tergantung pada kejujuran dan profesionalisme maskapai. Dan tugas pemerintahlah secara transparan dan tegas menegakka disiplin penerbangan. Kepercayaan masyarakat terhadap dunia transportasi nasional akan tumbuh seiring transparansi dan ketegasan pemerintah dalam manajemen layanan penerbangan ini. Jadi tidak penting mundur atau tidaknya Menteri Perubungan, karena siapapun menterinya, asal transparansi, ketegasan dan kejujuran dijunjung tinggi, ‘badai pasti berlalu’. Tidak ada kata terlambat. Wallahu Alam.

→ Tinggalkan KomentarKategori: transportasi

Geopolitik Timur Tengah

April 8, 2007 · 1 Komentar

ENERGI MASA DEPAN DI TIMUR TENGAH

“Minyak bumi dan gas alam, sungguh dan Timur Tengah adalah pemain kunci energi masa depan. Maka tidak heran secara geopolitik kawasan ini sangat strategis dan konflik berkepanjangan di kawasan akan senantiasa ‘diciptakan’.”

Oleh : Suwardi

Presiden AS, George W Bush, dalam pidato kenegaraan 31 Januari 2007, mengatakan bahwa Pemerintah AS berencana mengurangi ketergantungan minyak pada Timur Tengah sampai 75 persen tahun 2025 dengan memfokuskan pada bahan bakar alternatif, seperti etanol dan biodiesel.

Apa dalam kepala Bush sehingga ia berani sesumbar demikian? Bukankah ia ‘berteman’ dengan Arab Saudi untuk minyak? Juga telah menyerang Afghanistan bagi keamanan pasokan minyak? Menyerbu Irak, (dan sebentar lagi Iran) juga ‘dengan dalih minyak’?

Menurut Statistik OPEC (2005), konsumsi minyak USA mencapai 20,17 juta barel perhari dari total konsumsi dunia yang mencapai 77,52 juta barel per hari atau hampir sepertiga kebutuhan minyak dunia. 74,6 persen kebutuhan minyak USA adalah impor. Walau hanya sedikit memang yang berasal dari Timur Tengah (beturut-turut lima pengimpor terbesar AS adalah Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria), namun dengan memanasnya hubungan dengan kelompk kiri Amerika Latin yakni Venezuela, maka AS tetap membutuhkan Arab Saudi dan Timur Tengah khususnya. Apalagi Negara-negara tersebut adalah sesama anggota OPEC, dan solidaritas OPEC bisa menjadi kunci sebagaimana boikot terhadap Israel saat terjadi konflik Arab-Israel tahun 1970-an. Inikah yang ditakutkan USA, -sentimen anti USA)?

Ladang Minyak dan Gas Masa Depan

Masih dari Statistik OPEC (2005), produksi minyak OPEC sebesar 42,7 persen dari produksi minyak dunia, dimana keseluruhan Timur Tengah sendiri mencapai 40 persen dari produksi dunia, dengan tingkat ekspor menguasai 50,9 persen pasar ekspor minyak dunia. Sementara dari sisi cadangan terbukti (proven) minyak dunia sebesar 1,15 triliyun barel, OPEC masih mempunyai cadangan terbukti diatas 78,4 persen dunia yaitu sebesar 904,25 milyar barel, dan kawasan Timur Tengah memilki cadangan terbukti minyak paling besar yaitu 742,68 milyar barel (75 persen). (disusul berturut-turut Amerika Latin, Afrika, Eropa Timur, Asia Pasifik, Amerika Utara dan Eropa Barat).

Sementara itu, gas alam sebagai bagian dari migas saat ini mulai dikembangkan di negara-negara Timur Tengah dan OPEC. Pada awal berdirinya, share produk gas alam OPEC hanya 3 persen dari produk gas alam dunia. Saat ini (2005), share produk gas alam OPEC sudah menembus angka 17,6 persen sebesar 498,375 milyar m3 dari produk gas alam dunia sebesar 2,836 trilyun m3. Produksi tertinggi gas alam masih dari wilayah Eropa Timur Rusia, disusul Amerika Utara, Asia Pasifik, Timur Tengah, Eropa Barat, Amerika Latin dan Afrika.

Saat ini Rusia menjadi pemain kunci energi dunia dari sektor gas alam ini dengan produksi sebesar 801,5 milyar m3 atau mencapai 40 persen. Untuk kawasan Amerika Utara pemain kunci adalah USA, Iran untuk kawasan Timur Tengah, kawasan Asia Pasifik oleh Indonesia dan Amerika Latin oleh Argentina.

Untuk energi gas alam masa depan, Timur Tengah menjanjikan prospek yang cerah. Hal ini dikarenakan cadangan terbukti dunia sebesar 180,238 trilyun m3 terbesar berada di kawasan ini dengan 72,977 trilyun m3 (45 persen) disusul Eropa Timur dan Amerika Utara

Kontribusi inilah yang menunjukkan dominasi dan kekuatan utama negara-negara Timur Tengah dan menjadikan posisi tawar yang menguntungkan utamanya dalam pemenuhan kebutuhan energi minyak dan gas dunia.

Posisi tawar inilah bisa menjadi senjata yang ampuh dalam permainan geopolitik global. Krisis politik di beberapa negara pemain energi utama –terutama Iran dan Venezuela, serta ditambah dominasi dan arogansi USA, ditakutkan akan mengulangi sejarah kelam konflik Arab-Israel terdahulu. Pada awal tahun 2007 saja, harga minyak mentah mendekati tingkat rekor tertingginya dalam beberapa tahun terakhir belakangan ini hingga mendekati rekornya senilai 70,85 dolar AS per barel.

George Soros, yang termasuk pemodal global pun menyimpulkan bahwa tahun 2006 yang telah lewat adalah tahun berbahaya sepanjang menyangkut minyak. Sekarang ini sedikit ekonom yang siap memprediksi penurunan harga minyak selama 2007, bahkan prediksi sejumlah analis ekonomi bahwa angka 70 dolar AS per barel dapat menjadi “harga dasar” mulai awal tahun 2007 terbukti saat ini. Dan AS (baca Bush), mungkin telah melihat fenomena tersebut dan bersiap mengantisipasi bahwa minyak dan gas akan menjadi senjata politik ampuh di masa depan.

→ 1 CommentKategori: energi

TREND KAPAL

Februari 19, 2007 · & Komentar

Saat ini teknologi pembuatan kapal sudah melirik dari bahan fiberglass.

Selain teknologi relatif murah, cepat dalam pengerjaan

juga desain lambung lebih artistik….

kapal-pintar.jpg

kapl-kesehtn.JPG

rm-apung.jpg

Anda butuh dapat informasi lebih banyak

Atau anda tertatrik untuk mengembangkanya

Bakornas LTMI dapat membantu anda..

Telp. 021-3914640 / 0818370233

→ 5 CommentsKategori: kelautan

Review Riset&IPTEK 2006

Januari 14, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Catatan Akhir Tahun  2006; PEMBANGUNAN ILMU PENGETAHUAN DAN RISET

Bakornas LTMI-PB HMI
 
Pendahuluan
Pasal 31 ayat  5 UUD 1945 hasil amandemen menyebutkan bahwa: Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”. Output dari kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta riset adalah memajukan peradaban dan kesejahteraan masyarakat. Mengacu pada dua indikator output dari pembangunan ilmu pengetahuan dan riset minimal kita sudah dapat menilai keberhasilan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kurun waktu  1 tahun.  …….
…..more catatan-akhir-tahun-2006.pdf

→ Tinggalkan KomentarKategori: kajian

release munas 3…

Desember 6, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

MUNAS III & GELAR KARYA TEKNOLOGI – UKM LTMI

Surabaya, 10 s/d 12 Februari 2006
munas.JPG

Badan Koordinasi Nasional (BAKORNAS ) LTMI PB HMI bekerjasama dengan LTMI Cabang Surabaya telah menyelenggarakan event Gelar Karya Teknologi dan Usaha Kecil Menengah 2006, yang dirangkaikan dengan Musyawarah Nasional III Lembaga Teknologi Mahasiswa Islam.

Kegiatan Munas III LTMI dipusatkan di Hotel Brantas Jl. Kayoon 76 Surabaya dan Gelar Karya Teknologi dan Usaha Kecil Menengah 2006 ini diselenggarakan di Graha Indosat, Jl. Kayoon Surabaya, Jawa Timur, yang gedung keduanya saling berhadapan. Adapun waktunya dimulai dari hari jumat sampai dengan Minggu, 10 s/d 12 Februari 2006. Dimana Pembukaan Acaranya dipusatkan di Graha Indosat pada Hari Sabtu, 11 Februari 2006 yang dibuka secara resmi dengan pemukulan gong oleh Bapak Menteri Riset dan Teknologi/Kepala BPPT. Orasi Ilmiah dari Prof. M. Nuh (Rektor ITS). Sedangkan pembukaan stand pameran diresmikan dengan pemotongan pita oleh Bpk. Arief Afandi (Wawali Surabaya)….

….. more hasil-munas-3-gkt-ukm-ltmi-2006.pdf

→ Tinggalkan KomentarKategori: berita

lokakarya…

Desember 4, 2006 · Tinggalkan sebuah Komentar

LTMI Di Arena Konferensi Nasional (Konas) V Pesisir, Laut Dan Pulau-Pulau Kecil Batam

foto-pgn.jpg

29 Agustus – 1 September 2006

Suwardi*) – Direktur Eksekutif (Ketua Umum) Bakornas LTMI-HMI – Salah seorang Pemakalah Konas V

Acara Konferensi Nasional yang telah dilaksanakan di Batam, Kepulauan Riau untuk kelima kalinya setelah sebelumnya yang ke empat di Balikpapan tahun 2004 adalah agenda dua tahunan dalam rangka mempertemukan para stakeholders (pemerintah/pengambil kebijakan, pengusaha, pemerhati pesisir dan laut, pakar, mahasiswa dan masyarakat) yang terkait dan konsen dengan pesisir, laut dan pulau-pulau kecil. Kegiatan ini dibuka oleh Menteri Kelautan dan Perikanan, Freddy Numbery, yang juga dihadiri oleh Menteri Lingkungan Hidup, Rahmat Witular, Gubernur Kepulaun Riau dan Pejabat Daerah lainnya. Acara KONAS V kali ini mengusung tema “Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Lautan Untuk Mengangkat Marwah Negeri”, hasil kerjasama Departemen Kelautan dan Perikanan, Pemprop Kepulauan Riau, Pemkot Batam, Universitas Riau, Batam Industrial Development Authority, Kadin Kota Batam dan Yayasan Pendidikan Maritim Indonesia. Kegiatan dihadiri lebih dari 500 orang peserta, dimana peserta khusus pemakalah mencapai 75 karya. Isu ….

…… more sekilas-konas-v-pesisir.pdf

→ Tinggalkan KomentarKategori: kelautan