Lembaga Pengembangan Profesi Teknologi Mahasiswa Islam

Entries categorized as ‘kajian’

PELAJARAN DARI VENEZUELA

Agustus 6, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Setelah berhasil memenangi pemilu pada Desember 2006 yang merupakan kemenangan ketiga kalinya bagi Chavez sejak 1998, Venezuela menuju era baru nasionalisasi atas aset-aset strategis negara. Popularitas Chavez di mata rakyat miskin meningkat setelah pemerintahannya menggunakan hasil penjualan minyaknya untuk program-program sosial bagi rakyat miskin. Pemerintahan Chavez sangat piawai memanfaatkan besarnya pendapatan dari sektor penjualan minyak dan gas alam yang melimpah di negaranya dengan mengadakan proyek-proyek sosial. Diantaranya, memberikan subsidi makanan bagi warga miskin, pendidikan universitas gratis dan memberikan bantuan bagi para ibu sebagai orang tua tunggal yang masih membesarkan anaknya.
Chavez, yang lahir 28 Juli 1954, dikenal sebagai seorang pemimpin revolusi di Venezuela. Putra seorang guru itu memulai perjuangannya dengan berusaha melakukan kudeta terhadap pemerintah Februari 1992. Saat itu, dia berusaha menggulingkan Presiden Carlos Andres Perez yang dinilai gagal membawa perbaikan ekonomi bagi negara dengan mendirikan gerakan rahasia. Pertempuran antara anggota gerakan revolusi Bolivarian merenggut 18 jiwa dan 60 orang luka sebelum akhirnya Chavez menyerahkan diri pada pemerintah.
Saat Chavez menjalani hukuman di penjara militer, rekan-rekannya terus berusaha menggulingkan pemerintah. Namun, upayanya kedua yang dilancarkan November 1992 kembali gagal. Setelah menghabiskan dua tahun lebih di penjara, Chavez akhirnya membentuk partai dan memulai revolusinya melalui jalur politik. Setelah terpilih sebagai presiden tahun 1998, ia berkali-kali mengalami guncangan pemerintahan. Ia diancam dibunuh (2000). Tetapi, ia kembali mendapatkan mandat enam tahun masa jabatan pada tahun tersebut guna melakukan reformasi politik. Pada 14 November 2001, Chavez mengumumkan serangkaian tindakan yang bertujuan merangsang pertumbuhan ekonomi. Langkah itu termasuk di antaranya mengundangkan Undang-undang Reformasi kepemilikan tanah yang menetapkan bagaimana pemerintah bisa mengambil alih lahan-lahan tidur dan tanah milik swasta. Dia juga mengundangkan Undang-Undang Hidrokarbon yang menjanjikan royalti fleksibel bagi perusahaan-perusahaan yang mengoperasikan tambang minyak milik pemerintah. Namiun demikian, Chavez juga sempat mengundurkan diri di bawah tekanan pemimpin-pemimpin militer Venezuela pada 12 April 2002.
Di bawah kepemimpinan Hugo Chavez FrÌas, seorang mantan pejabat militer, sebuah “proses revolusioner Bolivarian” tengah berlangsung di Venezuela, terutama sejak Chavez memenangkan pemilu presiden pada 1998. Ketika perubahan progresif yang genuin tengah berlangsung, Chavez selain dibenci negara-negara kaya dan berkuasa, “revolusi Bolivarian” ini juga ditolak oleh beberapa kalangan kiri. Penyebabnya, tak lain karena revolusi ini dipimpin oleh seorang perwira militer dan karena militer memainkan peran signifikan dalam proses perubahan tersebut. Selain itu, militer juga memainkan peranan penting pada sejumlah lembaga-lembaga negara serta perencanaan pemerintah.

Pelajaran Berharga; Program Nasionalisasi Venezuela

Awal tahun 2007 adalah tahun yang menggemparkan bagi kalangan maskapai-maskapai besar multinasional di dunia, khususnya yang bergerak di bidang minyak. Pada Desember 2006, setelah terpilih untuk kalinya sebagai Presiden Venezuela, Chavez segera melancarkan jurus mautnya; menasionalisasi 2 lapangan minyak di Venezuela yang dikelola TOTAL SA (Perancis) dan ENI (Italia).
Tindakan presiden Venezuela Hugo Chavez terhadap beberapa puluh maskapai minyak asing yang beroperasi di negara yang cadangan minyaknya sekarang diperkirakan terbesar di dunia ini menunjukkan bahwa Venezuela yang kecil dan hanya berpenduduk 25 juta orang itu berani melawan kesembarangan banyak perusahaan multinasional dan berbagai pemerintah (termasuk AS) untuk membela kepentingan nasionalnya. Sangat menarik tentunya untuk dibandingkan dengan apa yang terjadi di Indonesia dengan kasus Exxon di Cepu, Newmont, Total, Caltex, Freeport dan lain-lainnya:
Selain menasionalisasi 2 lapangan minyak di atas, pemerintahan Hugo Chavez juga mengharuskan beberapa puluh maskapai minyak asing yang beroperasi di Venezuela untuk meninjau kembali atau memperbarui kontraknya atau mendirikan perusahaan joint-venture. Presiden Hugo Chavez mengatakan bahwa kalau maskapai-maskapai asing itu tidak setuju dengan perubahan-perubahan kontrak yang diusulkan pemerintahan Venezuela, maka maskapai-maskapai itu supaya mencari keuntungan di negara-negara lainnya di dunia. Chavez juga memperketat pencengkeramannya terhadap sumber-sumber energi Venezuela, dan mengancam menghukum maskapai-maskapai internasional yang melawan penguasaan atau kontrol pemerintah atas sumber-sumber minyak yang menjadi milik bangsa (threats to punish international companies that resist government control of the nation’s oil fields).
Belum selesai kekagetan atas nasionalisasi myiyaknya, Presiden Venezuela Hugo Chavez pada Januri 2007 mengumumkan rencananya untuk kembali menasionalisasikan perusahaan-perusahaan yang sebelumnya dikuasai swasta. Sektor listrik dan telekomunikasi menjadi target terdekat Chavez. Program ini akan mempengaruhi perusahaan penyuplai listrik, Eletricidad de Caracas yang dimiliki sebuah perusahaan asal Amerika Serikat. Chavez juga akan menasionalisasi perusahaan Nacional Telefonos de Venezuela (CANTV) menyusul ancamananya yangg akan menasionalisasi CANTV yang diprivatisasi sejak 1991. Cavez mengagendakan amandemen konstitusi untuk mendukung semua ambisinya tersebut termasuk juga amendemen untuk menghapuskan otonomi yang dimiliki Bank Sentral. Menurut Chavez langkah tersebut adalah langkah awal bagi Republik Sosialis Venezuela.
Nasionalisasi yang direncanakan Chavez adalah dalam upayanya mengembalikan semua aset strategis negara yang telah dijual dalam proyek privatisasi oleh rejim pemerintahan pro liberalisme sebelum Chavez. Namun di tengah program nasionalisasi berbagai perusahaan, Chavez masih memberikan kesempatan perusahaan asing untuk ikut mengelola proyek minyak di cekungan sungai Orinoco. Namun, Chavez menekankan bahwa negara harus tetap mengontrol proyek yang menguntungkan itu. Dalam bidang minyak, Chavez memang tidak sepenuhnya melakukan nasionalisasi karena masih melibatkan perusahaan asing.
Gerakan Chavez semakin mendunia melampui batas Amerika Latin. Chavez telah menawarkan minyak pemanas murah kepada warga Eropa berpenghasilan redah untuk membantu mereka melewatkan musim dingin. Chavez menyampaikan tawaran itu dalam pidato kepada lebih dari seribu aktivis sayap-kiri di Wina. Chavez menghadiri rapat umum protes yang dilangsungkan sehari setelah KTT para pemimpin Uni Eropa dan Amerika Latin di ibukota Austria itu pada awal 2007. Kepada para aktivis muda anti-globalisasi yang berkumpul dia mengatakan mereka harus bersatu dalam mendorong perubahan sosial di Eropa.
Pemerintah Venezuela sensiri telah melakukan hal yang sama di belahan Amerika Latin awal tahun ini, dengan memberikan minyak dengan potongan harga kepada warga Amerika Latin yang kurang mampu.

Mengandalkan Cadangan Minyak

Berbagai kalangan dalam industri minyak memperkirakan bahwa Venezuela menguasai simpanan minyak sampai 1,3 triliun barrel. Jumlah ini sama dengan seluruh jumlah persediaan minyak seluruh dunia. Presiden Hugo Chavez mengatakan bahwa Venezuela memiliki sumber minyak yang terbesar di dunia yang baru bisa habis 100 tahun lagi. Walaupun data resmi OPEC 2005 menunjukan cadangan terbukti minyak negara ini hanya kira-kira 80 milyar barel, -bandingkan dengan Arab Saudi 284 milyar barel, Iran 136 milyar barel, AS hanya 21 milyar barel, namun ini adalah lebih 70 persen dari cadangan keseluruhan Amerika Latin
Hugo Chavez akan minta kepada sidang OPEC di bulan Juni yang akan datang, untuk mengukuhkan secara resmi bahwa persediaan minyak Venezuela sekarang ini sudah lebih besar dari pada Saudi Arabia. Kedudukan Venezuela dalam OPEC makin kelihatan menonjol, karena keberanian pemerintahnya mengambil tindakan-tindakan untuk melindungi kepentingan nasionalnya dan melawan maskapai-maskapai internasional. Venezuela mengadakan kerjasama dengan perusahaan-perusahaan minyak negara di Tiongkok (dengan CNPC), India (dengan ONGC), dan Iran (dengan Petropars).
Berbagai kalangan memperkirakan bahwa setiap harinya sekitar $200 juta hasil minyak masuk ke kas negara Venezuela, dan lebih dari separonya datang dari pasaran Amerika Serikat. Saat ini 74,6 persen kebutuhan minyak USA sebagian besar diimpor dari Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria. Kelihatannya, dalam menghadapi persoalan minyak dari Venezuela ini Washington dalam posisi terjepit. Karena kebutuhan minyak besar sekali maka AS tepaksa harus mengimpor banyak minyak dari Venezuela sampai bermilyar-milyar dollar, meskipun permusuhan antara Venezuela dan Washington makin meruncing.
Washington tidak senang dengan pemerintahan Hugo Chavez, yang selain memusuhi AS terang-terangan dan dengan sikap keras, juga dianggap penyebar ketidak-stabilan di benua Amerika Latin. Dengan melimpahnya uang dari minyak, pemerintahan Hugo Chavez bisa menjual minyak dengan harga murah untuk Ekuador dan negara-negara kecil di Karibia, bahkan sampai jugamenolong orang-orang yang tidak mampu di AS. Washington menuduh Hugo Chavez “membeli” pengaruh di banyak negeri, dengan uang yang didapat dari minyak.
Tindakan-tindakan pemerintahan Hugo Chavez dalam memaksa begitu banyak maskapai-maskapai besar multinasional di bidang minyak untuk mematuhi peninjauan kembali kontrak-kontrak ini -dan bahkan sampai mensita 2 di antaranya -telah merupakan kejadian penting sekali dan cukup “mengagetkan” dalam dunia bisnis internasional. Dalam rangka perjuangan rakyat berbagai negeri melawan neo-liberalisme dan globalisasi, dimana perusahaan-perusahaan raksasa multinasional juga memainkan peran besar, maka apa yang terjadi di Venezuela memberikan semangat atau inspirasi bagi banyak orang.
Dapat diduga bahwa menghadapi kekuasaan yang begitu berani dari pemerintahan Hugo Chavez, perusahaan-perusahaan raksasa multinasional bersama berbagai pemerintahan (terutama AS) tidak akan tinggal diam dan membiarkan pemerintahan Hugo Chavez terus-menerus melakukan politik yang merugikan kepentingan mereka. Berbagai sumber memberikan informasi bahwa Amerikat Serikat sedang terus berusaha mengisolasi Venezuela, yang sekarang dianggap lebih berbahaya dari pada Kuba. Menteri Luarnegeri Venezuela mengatakan bahwa serangan AS terhadap Venezuela bisa saja terjadi setiap waktu, dan gejala-gejalanya sudah nampak dengan lebih jelas (mengenai hal ini akan ada tulisan tersendiri). Tetapi, serangan AS terhadap Venezuela akan membawa akibat buruk yang besar sekali, bagi hubungan AS dengan berbagai negara Amerika Latin, dan juga di benua lainnya. Di samping itu supply minyak sebesar 1,5 juta barrel per hari untuk pasaran AS akan terputus, sehingga akan menimbulkan kesulitan-kesulitan transport dan ekonomi yang tidak ada taranya bagi AS. Presiden Hugo Chavez meramalkan bahwa harga minyak akan bisa membubung sampai $150-$200 per barrel, kalau Venezuela diserang AS.
Memang, cepat atau lambat, mungkin sekali AS akan bertindak terhadap pemerintahan Hugo Chavez, yang sudah dianggap “keterlaluan” dalam sikapnya yang menghina Bush beserta pembesar pembesar AS lainnya dan membahayakan lebh lanjut pengaruh AS di berbagai negeri. Kalau ini terjadi, maka situasi dunia bisa menjadi geger, dan sulit dibayangkan apa saja yang akan menjadi buntutnya

Kategori: kajian

Dunia Baru, Perang Baru

Juli 12, 2007 · 2 Tanggapan

Selepas Perang Dunia II yang memunculkan kekuatan negara baru sebagai negara “adi daya” karena faktor kemenangan dan kekuasaan yang diperole pasca Perang Dunia II tersebut. Persaingan terbuka akhirnya timbul antara Blok Amerika Serikat dan sekutunya dengan Uni Soviet (Ruasia) dan sekutunya. Pergeseran kekuatan ini  dikenali sebagai Perang Dingin kerana ia tidak melibatkan pertempuran bersenjata secara langsung antara kekuatan besar (perang “panas”) secara besar-besaran. Perang Dingin dijalankan melalui tekanan ekonomi, bantuan terpilih, pergerakan diplomatik, propaganda, pembunhan, operasi ketentaraan tahap rendah dan perang provokasi sepenuhnya antara 1947 hingga kejatuhan Uni Soviet pada 1991. Istilah ini dipopulerkan oleh penasihat politik AS Bernard Baruch pada April 1947 semasa perdebatan mengenai Doktrin Truman yang menghendaki perluasan jaminan sosial, penghapusan pengangguran, pembagunan  perumahan rakyat dan pembagunan kembali daerah-daerah kota yang sudah rusak.
Perang Korea, Krisis Kuba, Perang Vietnam, Perang Afghanistan, dan kudeta kekuasaan yang dibantu CIA teradap pemerintahan yang condong ke kiri, -karena berhubungan komunis, sosialis dan Rusia-, seperti di Iran (1953), Guetemala (1954) dan Chile (1973) merupakan kejadian dimana ketegangan berkait dengan Perang Dingin mengambil bentuk dalam peningkatan dan perlombaan senjata. Dalam perlombaan senjata itu, terutamanya Amerika Serikat, beroperasi sebagian besarnya dengan membekalkan senjata dan uang kepada kelompok penentang dalam rangka menggangu dan mengurangi pengaruh Rusia di negara tersebut. Termasuk didalamnya konflik Arab-Isrel yang masih, –dan tetap-, bertahan hingga kini.
Pada tahun awal tahun 1970-an, Perang Dingin telah memunculkan pergaulan perhubungan antarabangsa menjadi semakin rumit dimana dunia dipecahkan kepada dua blok perasingan yang nyata. Satu ciri utama Perang Dingin adalah perlombaan senjata antara Uni Soviet dan NATO, terutamanya Amerika Serikat termasuk juga Inggris, Perancis dan Jerman Barat. Perlombaan ini berlaku dalam berbagai bidang teknologi dan militer yang menghasilkan banyak penemuan saintifik. Kemajuan revolusioner terutama dalam bidang rket, yang mendorong kepada perlombaan angkasa. Dan  yang harius digarisbawahi adalah kebanyakan atau semua roket yang digunakan untuk meluncurkan manusia dan satelit untuk sampai ke bulan merupakan rekabentuk bidang kemiliteran. Bidang lain dimana perlombaan senjata berlaku termasuk jet tempur, pengebom, senjata nuklir, senjata kimia, senjata biologi, rudal anti pesawat maupn satelit pengintai dan banyak lagi teknologi. Semua bidang ini memerlukan keahlian tinggi dari segi teknologi dan pembuatan. Dalam kebanyakan bidang, negara Barat telah mampu menciptakan senjata dengan fungsi yang efektif, terutamanya disebabkan oleh ambisi kenkuasaan dan pengaruh kejayaan masa lalu disamping kepentingan ekonomi dan politik dalam mendukung kepentingan militer ini.
Akibatnya, negara-negara yang kurang mampu atau negara dunia ketiga menjadi lebih berdikari. Dan puncaknya adalah berdirinya Gerakan Nonblok tahun 1961 pada saat memuncak Perang Dingin. GNB lahir untuk mengimbangi pertarungan ideologis antara Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.
Namun sejak runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, kekuasan dunia baru praktis di pegang oleh Amerika Serikat. Dengan kondisi seperti ini seharusnya, dunia menjadi lebih damai. Akan tetapi usai Perang Dingin berakhir, ternyata perang dan konflik bersenjata masih muncul di mana-mana. Harapan akan terbentuknya dunia yang lebih aman dan damai ternyata masih sulit diwujudkan. Dunia masih terus dilanda kekacauan bukan hanya oleh konflik bersenjata dan gelombang kekerasan yang merebak di mana-mana, tetapi juga oleh ketimpangan sosial ekonomi, kemiskinan, pengangguran dan krisis lingkungan hidup. Jika ketegangan di era Perang Dingin lebih dipicu oleh pertarungan ideologis antara kapitalisme dan komunisme, saat ini dunia dilanda oleh masalah ketimpangan ekonomi dan tatanan dunia yang tidak adil.
Dengan paham kapitalisme ini, Amerika Serikat sedang menjalankan misinya, yaitu “Amerikanisasi Dunia”. Terbukti dengan tekanan ekonomi dam militer apapun keinginan AS tercapai, terkecuali kegagalan AS di Perang Vietnam dan Somalia. Kemungkinan kegagalan ini akan terulang di Irak terlepas keberhasilannya menumbangkan musuh besarnya di Timur Tengah, Sadam Husain. Kapitalisme telah gagal membawa kesejahteraan dunia. Saat ini dibelaan dunia Timur Tengah dan Amerika Latin tengah bergelora perang melawan hegemoni AS dan doktrin kapitalismenya.

Perlawanan Bersama; Bersiap Menyambut Perang Baru

Ketegangan dunia saat ini lebih dilatar belakangi pada satu hal, sumber daya minyak bumi. Ketika tahun 2001 harga minyak dunia masih 30 dollar AS per barrel, soal ini masih belum menjadi kekhawatiran nyata. Namun, setelah harga minyak melewati 70 dollar AS per barrel pada awal tahun 2007, konstelasi politik global pun berubah.
Negara-negara yang memiliki cadangan minyak bumi merasa lebih “powerful” menghadapi negara-negara kekuatan utama dunia yang merasa terancam aksesnya. Akibatnya, yang terjadi saat ini adalah strategi yang saling mengancam, baik antarnegara, bahkan antarblok. Perseteruan antara AS (Barat) dan Iran misalnya, bukan semata dilandasi karena kekhawatiran Barat bahwa Iran akan memproduksi senjata nuklir. Yang lebih utama adalah karena Iran memiliki sumber daya minyak kedua terbesar di dunia dengan cadangan terbukti 136,27 milyar barrel terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi dengan kemampuan produksi 4,1 juta barrel per hari.
Michael T Klare yang analisisnya mengenai perang Irak begitu jitu kini juga meramalkan hal serupa terhadap Iran, antara lain dia meyakini invasi itu bukan karena adanya senjata pemusnah massal ataupun keterkaitan rezim Saddam Hussein dengan Al Qaeda, tetapi karena kepentingan minyak AS. Klare juga menuliskan, andaikan AS menginvasi Iran, itu adalah demi sebuah “perubahan rezim” yang dapat melindungi kepentingan minyak AS. Dan kebenaran analisa Klare ini pada bulan April 2007 telah diakui oleh Departemen Pertahanan AS, setelah Sadam Husein dieksekusi gantung.
Coba kita mengingat kembali pidato Bush ketika akan menginvasi Irak? “Bila semua ambisi senjata pemusnah massal Saddam Hussein terealisasi, implikasinya sangat luar biasa bagi Timur Tengah dan AS. Dipersenjatai dengan senjata teror dan menguasai 10 persen cadangan minyak dunia, Saddam Hussein mungkin akan berupaya mendominasi seluruh Timur Tengah.”
Menurut Klare, jika kita mengganti kata “Saddam Hussein” dengan “para mullah Iran”, dan dengan penguasaan 12 persen cadangan minyak dunia dan 15 persen cadangan gas alam dunia maka akan memberikan ekspresi yang sempurna mengapa Bush bersiap untuk menginvasi Iran
Kita masih mengikuti bagaimana gigihnya Iran dalam menghadapi hegemoni AS dan Barat. Namun yang kini juga terlihat adalah sebuah “perlawanan bersama” dari negara-negara yang memiliki cadangan minyak bumi untuk menghimpun kekuatan dan meningkatkan posisi tawar mereka terhadap AS dan sekutunya.
Pada Mei lalu Wapres AS Dick Cheney di depan para pemimpin negara-negara bekas Uni Soviet di Kiev, Ukraina, menuduh Rusia telah “menggunakan minyak dan gas bumi untuk mengintimidasi para tetangganya”. Cheney merujuk pada perseteruan Ukraina (negara bekas Uni Soviet) dengan Rusia soal harga gas. Rusia sempat menghentikan pasokan gas ke Ukraina ketika Kiev berkeras tak mau menerima kesepakatan harga baru.
Tindakan ini dikecam negara-negara Barat. Namun, Rusia juga ingin “memberi pelajaran” pada Ukraina tentang siapa yang menjadi tuan di kawasan itu. Maklumlah, begitu Victor Yuschenko yang sangat pro-Barat terpilih menjadi PM Ukraina, kebijakannya sangat berorientasi pada AS dan barat. Ia “lupa” secara geopolitik, Ukraina sangat bergantung pada Rusia.
Perseteruan ini berlanjut panjang. Dengan dukungan AS, Azerbaijan, Georgia, Moldova, dan Ukraina meluaskan aliansi mereka (GUAM) dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan energi terhadap Rusia. Negara-negara ini akan membangun pipa minyak tanpa melewati Rusia, yaitu dari Laut Caspia ke Azerbaijan, kemudian ke Georgia dan langsung ke pasar negara-negara Barat. Jalur ini dinamakan jaringan Baku-Tbilisi-Ceyhan.
Bagi Moskwa, “kunci” dalam aliansi ini adalah Azerbaijan yang memiliki sumber daya gas alam melimpah. Oleh karena itu, Rusia berupaya “mengikat” Azerbaijan dengan beragam tawaran, termasuk keanggotaan dalam kesepakatan keamanan Rusia-China (ketiga negara lainnya sudah ditarik NATO). Azerbaijan cukup cerdas untuk membangun keseimbangan hubungan dengan Barat dan Rusia, sehingga negara itu memperoleh keuntungan dari kedua sisi.
Perlawanan sistematis juga datang dari “musuh-musuh” lama AS di Amerika Latin. Venezuela, Bolivia, dan Kuba, mengeratkan tangan mereka untuk menentukan masa depan Amerika Latin. Terpilihnya Evo Morales sebagai Presiden Bolivia menjadi “mimpi buruk” AS yang berangan-angan ingin “mendemokratisasi” halaman belakangnya dengan resep pasar bebas.
Bolivia sejak awal Mei lalu menasionalisasi seluruh perusahaan minyak dan gas alam di negara itu, di mana seluruh perusahaan energi asing harus menyetujui penyaluran seluruh penjualan hasil produksinya melalui Pemerintah Bolivia, atau segera angkat kaki.
Sehari sebelum pengumuman nasionalisasi, Morales bersama Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Fidel Castro dari Kuba bertemu di Havana untuk menandatangani “kesepakatan perdagangan sosialis”. Mereka bercita-cita “menyatukan Amerika Latin” melalui jaringan pipa minyak, dan menyebut aliansi ini sebagai sebagai Poros Kebaikan (Axis of Good), sebuah ledekan yang menohok Washington.
Meskipun tidak semua negara berpemerintahan kiri di Amerika Latin setuju dengan langkah-langkah nasionalisasi Bolivia (seperti Cile dan Peru), keberhasilan Morales telah memberi inspirasi tentang “kebangkitan melawan hegemoni AS” di seluruh kawasan. Hal ini akan berpengaruh pada para kandidat pemilu presiden di negara-negara Amerika Latin dalam meraih simpati rakyat, apakah mereka pro AS (yang diplesetkan menjadi pro-imperialisme), atau pro-sosialisme (pro-rakyat).
Para analis mengatakan, pergeseran yang terjadi di Amerika Latin ini karena AS terlalu lama “mengabaikan” kawasan ini setelah serangan 11 September 2001, dan kemudian terkooptasi oleh isu terorisme dan Timur Tengah. Namun, alih-alih melakukan pendekatan untuk merebut simpati, AS menerapkan pendekatan tangan besi.
AS menyikapinya dengan mengumumkan larangan penjualan senjata ke Venezuela, yang merupakan eksportir minyak nomor lima terbesar di dunia dan salah satu pemasok minyak terbesar bagi AS, dengan alasan “Venezuela tidak kooperatif dalam memerangi terorisme dan telah membahayakan stabilitas kawasan”. Washington mengumumkan embargo tersebut bersamaan dengan pengumuman pemulihan seluruh hubungan AS dengan Libya. Situasinya pun dibuat lebih dramatik, yaitu hanya sehari sebelum Hugo Chavez bertemu Moammar Khadafy di Tripoli.
Kini perusahaan-perusahaan minyak AS dan Eropa mulai berkompetisi untuk merebut akses ke Libya . Menurut Asisten Menlu AS David Welch Ini (sikap AS terhadap Libya) bisa menjadi contoh bagi Iran. Kepentingan minyak AS di Timur Tengah diyakini menjadi pertimbangan utama Washington untuk berbaikan dengan Libya, terlebih dengan meningkatnya ketegangan politik dengan Iran, situasi yang tak stabil di Irak, dan kondisi memanas antara Israel dan Palestina.
Dalam pidato kenegaraan 31 Januari 2007, Presiden George W Bush mengatakan, Pemerintah AS berencana mengurangi ketergantungan minyak pada Timur Tengah sampai 75 persen tahun 2025 dengan memfokuskan pada bahan bakar alternatif, seperti etanol dan biodiesel.
Beragam tanggapan muncul atas ajakan Bush ini. Ada yang pesimistis tapi tak sedikit yang optimistis. Menurut Statistik OPEC (2005), total impor minyak AS mencapai 60 persen, namun hanya sedikit yang berasal dari Timteng (beturut-turut lima pengimpor terbesar AS adalah Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria). Artinya, mengurangi ketergantungan dari Arab Saudi tidak akan menghapus ketergantungan AS terhadap pasokan minyak asing. Bahkan bila AS menghentikan total impor dari Timur Tengah pun, hal itu akan mendorong instabilitas politik di kawasan, karena harga minyak sangat terkait hal itu.
Namun, gagasan Bush untuk menggunakan etanol dinilai sudah pada arah yang tepat untuk jangka panjang. Saat ini industri etanol AS menghasilkan sekitar 9,5 miliar liter gasolin setiap, masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari di AS. Pihak yang optimistis menilai, penggunaan biodiesel bisa menggantikan 10-15 persen penggunaan total gasolin di AS, sama dengan menghapus 75 persen impor minyak dari Timur Tengah. Akan tetapi kebijakan ini mendapat tantangan keras dari kelompok pemerhati lingkungan. Dikarenakan tanaman pengasil etanol jyaitu jagung, singkong maupun jarak penghasil biodiesel sangat merusak lingkungan karena jenis tanaman yang monokultur.
Apa pun langkah AS di masa depan yang berkaitan dengan kebutuhan energinya, akan berpengaruh terhadap kondisi global. Namun, jangan salah, bukan hanya AS yang sudah mengambil ancang-ancang, para pemimpin lain di dunia pun bersiap mengantisipasi bahwa minyak dan gas akan menjadi senjata politik ampuh di masa depan.
Seperti apa yang dikatakan Richard Haass dalam Newsweek, mulai kini latihan perang-perangan akan lebih banyak membahas tentang anjloknya pasokan minyak dan naiknya harga minyak global daripada pengerahan tank-tank dan kendaraan lapis baja menuju perbatasan. Maka bersiaplah menyaksikan Perang Teluk III dari Iran pasca keluarnya Resolusi 1747 PBB akibat kegigihan Iran mempertahankan Progam Nuklir Damainya. Dan bersiap juga menyambut spirit perang baru dari Amerika Latin dengan Revolusi Bolivarian-nya.

Kategori: kajian

Review Riset&IPTEK 2006

Januari 14, 2007 · Tinggalkan sebuah Komentar

Catatan Akhir Tahun  2006; PEMBANGUNAN ILMU PENGETAHUAN DAN RISET

Bakornas LTMI-PB HMI
 
Pendahuluan
Pasal 31 ayat  5 UUD 1945 hasil amandemen menyebutkan bahwa: Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia”. Output dari kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta riset adalah memajukan peradaban dan kesejahteraan masyarakat. Mengacu pada dua indikator output dari pembangunan ilmu pengetahuan dan riset minimal kita sudah dapat menilai keberhasilan pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kurun waktu  1 tahun.  …….
…..more catatan-akhir-tahun-2006.pdf

Kategori: kajian