Lembaga Pengembangan Profesi Teknologi Mahasiswa Islam

Entries categorized as ‘energi’

(SULITKAH) INOVASI ENERGI KHAS INDONESIA?

Mei 12, 2008 · 1 Komentar

Belakangan ini, kita disuguhi oleh pemberitaan tentang pemanasan global dan ancaman hujan asam sebagai akibat dari semakin menumpuknya zat / partikel pencemar udara, yaitu CO2, SO2, NO2 yang berasal dari pembakaran dan penggunaan energi fosil.

 

Berbagai upaya dijalankan, berbagai program digalakkan dan kampanye terus didengungkan oleh komunitas global: “STOP GLOBAL WARMING!”

 

Sementara di sisi lain, penulis melihat bahwa, pemanasan global sepertinya akan terus meningkat, demikian juga ancaman hujan asam. Hal ini didasarkan atas analisis dari World Oil Market bahwa, pertama, kebutuhan energi dunia diproyeksikan akan meningkat sekitar 60% antara tahun 2002 sampai dengan tahun 2030 dengan rata-rata pertumbuhan pertahun 1,7%. Kebutuhan akan mencapai 16,5 miliar toe (tonnes of oil eqivalent) bila dibandingkan dengan tahun 2002 sebesar 10,3 miliar toe. Minyak bumi akan tetap menjadi energi yang dominan digunakan. Komposisi kebutuhan minyak bumi mengalami peningkatan dari 80% pada tahun 2002 menjadi 82% pada tahun 2030. Sementara itu sumber energi terbarukan kondisinya tetap pada kisaran 14% dari total kebutuhan energi.

 

Kedua, minyak bumi akan tetap mendominasi penggunaan energi, sekitar 85% dari penggunaan energi dunia. Minyak akan kembali menjadi satu-satunya sumber penggunaan energi paling besar. Kebutuhan akan minyak diproyeksikan tumbuh 1,6% per tahun 77mb/d pada tahun 2002, 90 mb/d pada tahun 2010 dan menjadi 121 mb/d pada tahun 2030. Penggunaan minyak akan meningkat khususnya pada sektor transportasi, diperkirakan 2/3 (60%) dari total penggunaan minyak. Sektor transportasi akan meggunakan 54% dari minyak dunia pada tahun 2030 dibandingkan dengan sekarang 47% dan tahun 1971 yang hanya 33%. Minyak akan sedikit menghadapi kompetisi dengan bahan bakar lain yang digunakan pada transportasi darat, udara dan laut. Pada negara-negara OECD penggunaan minyak pada sektor perumahan dan jasa mengalami penurunan yang tajam. Di negara-negara non-OECD sektor transportasi akan menjadi pendorong utama penggunaan minyak disamping itu juga sektor industri, perumahan dan jasa akan tetap mejadi pemicu peningkatan kebutuhan minyak. Di beberapa negara berkembang, produk minyak akan tetap menjadi sumber utama energi modern untuk kepentingan memasak, pemanas khususnya di wilayah perdesaan,

 

Ketiga, kebutuhan utama gas alam akan tumbuh pada angka 2,3% per tahun selama periode proyeksi hingga 2030. Pada tahun 2030, konsumsi gas akan menjadi 90% lebih tinggi dari sekarang dan gas akan mengambil alih batubara sebagai sumber energi terbesar kedua.  Komposisi  penggunaan gas akan tumbuh dari 21% pada tahun 2002 menjadi 25% pada tahun 2030. Sektor listrik akan mengkosumsi 60% dari peningkatan kebutuhan gas, dengan komposisi peningkatan pasar gas 36% pada tahun 2002 menjadi 47% pada tahun 2030. Sektor kelistrikan akan menjadi pendorong utama kebutuhan gas di seluruh dunia. Tren ini akan mejadi nyata di negara-negara berkembang yang kebutuhan listriknya akan tumbuh dengan pesat.

 

Keempat, penggunaan batubara diseluruh dunia diproyeksikan akan meningkat 1,5% per tahun antara 2002 hingga 2030. Pada tahun 2030 kebutuhan batubara hanya sekitar 7 miliar ton. Komposisi batubara terhadap penggunan energi sedikit turun dari 23% menjadi 22%. Cina dan India merupakan dua negara yang cukup besar untuk disuplai. Lebih dari  2/3 peningkatan penggunan batubara dunia berasal dari Cina dan India. Sektor kelistrikan akan menyerap sangat banyak terhadap peningkatan kebutuhan batubara. Selanjutnya batubara akan kehilangan pasar pada pembangkit listrik di seluruh negara-negara OECD dan di beberapa negara-negara berkembang.

 

Dari keempat hal di atas, sangat jelas bahwa upaya menurunkan bahan pencemaran udara dari penggunaan energi fosil sangat terhalang akan kebutuhan mutlak sumber energi tersebut bagi pembangunan, khususnya di negara-negar berkembang ke depan. Hal ini sangat nyata karena memang energi ini sangat kompetitif dan saat ini paling ”mudah” dan ”murah” memproduksinya jika dibandingkan dengan energi lain misal nuklir, matahari, angin maupun tenaga gelombang dan arus laut yang secara ketersediaan khususnya di Indonesia cukup berlimpah sepanjang tahun.

 

Maka sebenarnya Indonesia punya peluang yang besar dalam menciptakan inovasi energi yang bisa menjadi ciri khas bangsa sebagai negara tropis yang panas sepanjang tahun serta ¾ wilayahnya adalah lautan. Sehingga kita bisa memilih dan menentukan tren energi kita sendiri seiring menyusutnya cadangan dan produksi minyak mentah kita. Inilah yang harus menjadi arus utama pemikiran dan riset yang mendalam serta tentunya dukungan pembiayaan yang tidak sedikit.

 

Disinilah political will pemerintah dipertaruhkan demi kemandirian energi kita. Seyogyanya, pilihan tren energi khas (ala) Indonesia ke depan harus dapat menjamin 2 (dua) hal yaitu upaya mejamin kemandirian energi nasional dan upaya penyelamatan lingkungan tanpa menghalangi proses pembangunan. Smoga.

Kategori: energi

Mengapa (nekat) Nuklir??

September 24, 2007 · & Komentar

Energi adalah penggerak ekonomi. Pernyataan ini tepat sekali untuk mengkaitkan hubungan antara kebutuhan energi bagi pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Beberapa lembaga dunia (seperti OPEC dan World Oil Marmet) telah memprediksi tantangan pengembangan energi dunia dihadapkan pada tingkat kebutuhan energi dunia yang diproyeksikan meningkat sekitar 60% antara tahun 2002 sampai dengan tahun 2030 dan akan mencapai 16,5 juta toe.

Dua pertiga peningkatan bersumber dari negara-negara berkembang. Dimana minyak bumi akan tetap mendominasi penggunaan energi, sekitar 85% dari penggunaan energi dunia dan sektor transportasi dan pembangkit listrik akan menyerap peningkatan pertumbuhan penggunaan energi ini. Proyeksi pertumbuhan suplai energi dunia membutuhkan investai 16 triliun dollar pada tahun 2003 hingga tahun 2030 atau 568 juta dollar per tahunnya. Sektor kelistrikan akan menyerap investasi paling banyak.

Guildford (1973) pernah mengungkapkan bahwa Oil Economy atau World Oil terdiri dari 90 % unsur politik dan 10 % unsur minyak itu sendiri. Fakta sejarah perkembangan ekonomi dunia menunjukkan pentingnya pengaruh bahan bakar minyak (BBM) dalam perekonomian, khususnya formulasi kebijakan makroekonomi secara umum dikarenakan fluktuasi haraga minyak dunia.
Sebagai konsekuensi perekonomian terbuka, maka gejolak eksternal fluktuasi harga minyak dunia akan terus menjadi tantangan bagi efektivitas kebijakan fiskal nasional secara umum, khususnya kemampuan untuk mengembangkan aturan/disiplin fiskal dalam menghadapi gejolak eksternal. Siapa yang mengira harga minyak mentah bisa menembus angka 70 dollar per barel. Bahkan dipercaya harga minyak dunia akan menembus level 100 dollar hingga 200 dollar pada kurun waktu 25 – 30 tahun mendatang.

Bagi perekonomian terbuka skala kecil seperti Indonesia, fluktuasi harga minyak dunia telah berakibat langsung bagi efektivitas kebijakan fiskal—kebijakan pembiayaan dan pembelanjaan negara—yang tercermin dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Kenaikan harga minyak dunia memberikan tekanan khususnya pada anggaran subsidi BBM.

Paradoks dari peningkatan kebutuhan akan energi diikuti dengan penurunan cadangan sumber energi utama khususnya minyak dan gas. Upaya pencarian energi alternatif selain minyak dan gas atau dengan kata lain energi fosil termasuk batu bara menuju pada sumber energi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan menjadi perhatian pemerintah, ilmuwan maupun LSM.

Indonesia, -yang telah menjadi net importer minyak saat ini, yang mengandalkan pendapatan APBN lebih 30% dari migas, haruslah khawatir dengan proyeksi ini. Langkah yang tepat telah ditempuh dengan kebijakan diversifikasi energi-nya. Apakah energi alternatif pasca minyak tersebut? Nuklir bersama energi panas matahari, panas bumi, angin, laut dan mikro hidro yang biasa dikenal dengan energi baru-terbarukan adalah termasuk alternatif energi masa depan tersebut dengan energi transisi adalah batubara dan gas bumi yang masih merupakan bagian dari energi fosil.

Terlalu lama kita dinina bobokan dengan kekayaan alam yang berlimpah dan sumber daya mineral yang cukup, namun itu cerita lalu. Kita harus bersiap menjadi negara yang miskin (energi) jika kita tidak segera beralih dan berani memulai yang baru. Ya, mesti beralih, tapi apa harus nuklir? Kenapa tidak yang lain? Itulah pertanyaan yang selalu muncul dalam pro- kontra nuklir ini.
Menyikapi pro-kontra nuklir belakangan ini, salah satu Deputi Menristek dalam opininya di salah satu harian nasional melakukan pembelaan yang terkesan mem’babi-buta’ dengan pernyataan ’sekarang atau tidak sama sekali’ untuk PLTN. Mengesampingkan fakta bahwa masih ada pro-kontra di masyarakat bukanlah ciri khas seorang teknokrat dan profesional. Kode etik seorang profesional adalah bagaimana ia mengembangkan keilmuannya untuk kemaslahatan umat manusia dan lingkungannya.

(Mungkin) Benar bahwa teknologi pembangkit nuklir telah teruji di beberapa negara maju; bahwa kerentanan gempa bisa dihadapi dengan teknologi yang ada, bahwa SDM kita telah mampu; namun apakah sosio-kultur kita juga telah siap? Ini dulu yang harus dijawab. Berkacalah dari Iran, dimana energi nuklir telah menjadi kebulatan tekat warga Iran.

Dimana memulainya? Fakta bahwa kita harus beralih dari energi minyak (fosil) menuju alternatif energi masa depan itulah yang harus diramu menjadi sebuah kebulatan tekad bersama, menjadi kebutuhan dan kepentingan nasional. Masyarakat perlu penyadaran komunal untuk itu.
Dan inilah tanggung jawab bersama. Dan pemerintah harus membuka kran dialog dan opini yang berimbang seluas-luasnya. Pro-Kontra harus disyukuri dan dimaknai sebagai proses pendewasaan dalam pengambilan keputusan demi kemaslahatan bersama.

FAKTA (yang bisa jadi menyesatkan)

Membumbungnya harga minyak, terutama dalam setahun terakhir, membuat sejumlah besar negara industri dan berkembang melirik pemanfaatan energi-energi moderen. Sejumlah pakar memprediksikan, bahwa dalam waktu dekat harga minyak akan naik lagi dan akan melampaui harga seratus dolar perbarel. Yang demikian itu berarti sebuah pukulan berat bagi pertumbuhan perekonomian negara-negara maju dan berkembang. Akan tetapi, tanpa melibatkan kenaikan harga minyak yang sangat mengkhawatirkan ini pun, banyak alasan logis lain yang membuat negara-negara di dunia berpikir untuk memanfaatkan energi nonfosil.

Disamping faktor-faktor seperti polusi lingkungan hidup, keterbatasan dan ketidak mampuan bahan bakar fosil untuk didaur ulang, demikian pula tidak cukupnya jumlah produk untuk memenuhi tuntutan konsumen yang berpengaruh dalam mendorong secepatnya beralih. Apa lagi jika dilihat, bahwa negara-negara konsumen bahan bakar fosil, saat ini harus bersaing ketat untuk memperoleh bahan bakar ini, terutama dari Timur Tengah. Untuk itu para pakar menekankan dan menganjurkan usaha serius untuk mencari alternatif lain, termasuk pembuatan pusat-pusat pembangkit listrik tenaga nuklir.

Negara-negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi cepat di Asia, saat ini menunjukkan minat yang lebih besar daripada negara lain, untuk membangun reaktor nuklir. Dari 30 reaktor yang baru-baru ini telah beroperasi memproduksi listrik, 20 unitnya berada di Asia. Cina, India dan Pakistan, termasuk diantara negara-negara tersebut. Berdasarkan data statistik, India yang menghasilkan 2,8 persen listriknya dari energi nuklir, kini tengah membangun 9 unit reaktor nuklir. Dalam program jangka panjang sampai pertengahan abad ini, India berniat meningkatkan volume produksi listriknya hingga seratus kali lipat.

Cina juga telah mengumumkan, hingga tahun 2020, akan membangun reaktor nuklir dengan kekuatan 1000 megawatt. Dengan membangun reaktor-reaktor tersebut, kapasitas produksi listrik nuklir Cina akan naik dari 16 gigawatt menjadi 40 gigawatt, yang merupakan 4 persen energi yang digunakan di negara ini. Daya tarik dan keinginan membangun reaktor nuklir di Eropa dan di negara-negara seperti Inggris dan Perancis, juga meningkat tajam. Jerman, Swedia, Bergia,Perancis dan Inggris, tengah merevisi dan membatalkan penutupan reaktor-reaktor nuklir mereka.

Sementara itu, berdasarkan laporan IAEA, satu-satunya jalan agar dunia mampu merealisasikan tujuan-tujuan perjanjian Kyoto, ialah dengan meningkatkan kapasitas produksi listrik nuklir tiga kali lipat, hingga tahun 2050. Yang jelas, aktifitas lebih dari 440 unit reaktor nuklir di 31 negara, mengindikasikan pentingnya peran energi nuklir. Menurut Muhammad elBaradei, Sekjen IAEA, pembangunan reaktor nuklir baru, dengan alasan pengembangan ekonomi di sejumlah besar negara dunia, adalah sesuatu yang tak terhindarkan.

Namun demikian, fakta diatas juga berimplikasi pula dalam meningkatkan harga uranium yang merupakan bahan utama pembuatan bahan bakar energi nuklir. Berdasarkan sebuah laporan ekonomi, harga perkilo batu uranium hingga akhir dekade 1980 sekitar 20 sampai 23 dolar, tiba-tiba sejak awal tahun 2004 melonjak tiga kali lipat. Sebagian pengamat masalah ekonomi memperkirakan, hingga akhir tahun ini, harga perkilo uranium akan naik hingga 80 dolar, -akan mirip dengan ekonomi minyak.

Fakta-fakta tersebut harus diungkap secara berimbang, bagaimana kemampuan sumber daya uranium kita? Sampai bera tahun lagi?
Lalu bagaimana energi lainnya? Tidak adakah energi khas yang kita miliki? Kemana energi matahari, angin dan lautan luas kita? Apakah Indonesia akan (sekedar ’gagah-gagahan’) ikut-ikutan memiliki nuklir? Tidak bisakah semua potensi sumber energi alternatif tersebut jalan bersama? Seberapa besar anggaran yang disediakan untuk skenario-skenario itu?

Sekiranya pertanyaan ini bisa terjawab, yakinlah ’pelan namun pasti’, pilihan rasional pemerintah pasti mendapat apresiasi yang sepadan dari masyarakat.

Kategori: energi

Geopolitik Timur Tengah

April 8, 2007 · 1 Komentar

ENERGI MASA DEPAN DI TIMUR TENGAH

“Minyak bumi dan gas alam, sungguh dan Timur Tengah adalah pemain kunci energi masa depan. Maka tidak heran secara geopolitik kawasan ini sangat strategis dan konflik berkepanjangan di kawasan akan senantiasa ‘diciptakan’.”

Oleh : Suwardi

Presiden AS, George W Bush, dalam pidato kenegaraan 31 Januari 2007, mengatakan bahwa Pemerintah AS berencana mengurangi ketergantungan minyak pada Timur Tengah sampai 75 persen tahun 2025 dengan memfokuskan pada bahan bakar alternatif, seperti etanol dan biodiesel.

Apa dalam kepala Bush sehingga ia berani sesumbar demikian? Bukankah ia ‘berteman’ dengan Arab Saudi untuk minyak? Juga telah menyerang Afghanistan bagi keamanan pasokan minyak? Menyerbu Irak, (dan sebentar lagi Iran) juga ‘dengan dalih minyak’?

Menurut Statistik OPEC (2005), konsumsi minyak USA mencapai 20,17 juta barel perhari dari total konsumsi dunia yang mencapai 77,52 juta barel per hari atau hampir sepertiga kebutuhan minyak dunia. 74,6 persen kebutuhan minyak USA adalah impor. Walau hanya sedikit memang yang berasal dari Timur Tengah (beturut-turut lima pengimpor terbesar AS adalah Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria), namun dengan memanasnya hubungan dengan kelompk kiri Amerika Latin yakni Venezuela, maka AS tetap membutuhkan Arab Saudi dan Timur Tengah khususnya. Apalagi Negara-negara tersebut adalah sesama anggota OPEC, dan solidaritas OPEC bisa menjadi kunci sebagaimana boikot terhadap Israel saat terjadi konflik Arab-Israel tahun 1970-an. Inikah yang ditakutkan USA, -sentimen anti USA)?

Ladang Minyak dan Gas Masa Depan

Masih dari Statistik OPEC (2005), produksi minyak OPEC sebesar 42,7 persen dari produksi minyak dunia, dimana keseluruhan Timur Tengah sendiri mencapai 40 persen dari produksi dunia, dengan tingkat ekspor menguasai 50,9 persen pasar ekspor minyak dunia. Sementara dari sisi cadangan terbukti (proven) minyak dunia sebesar 1,15 triliyun barel, OPEC masih mempunyai cadangan terbukti diatas 78,4 persen dunia yaitu sebesar 904,25 milyar barel, dan kawasan Timur Tengah memilki cadangan terbukti minyak paling besar yaitu 742,68 milyar barel (75 persen). (disusul berturut-turut Amerika Latin, Afrika, Eropa Timur, Asia Pasifik, Amerika Utara dan Eropa Barat).

Sementara itu, gas alam sebagai bagian dari migas saat ini mulai dikembangkan di negara-negara Timur Tengah dan OPEC. Pada awal berdirinya, share produk gas alam OPEC hanya 3 persen dari produk gas alam dunia. Saat ini (2005), share produk gas alam OPEC sudah menembus angka 17,6 persen sebesar 498,375 milyar m3 dari produk gas alam dunia sebesar 2,836 trilyun m3. Produksi tertinggi gas alam masih dari wilayah Eropa Timur Rusia, disusul Amerika Utara, Asia Pasifik, Timur Tengah, Eropa Barat, Amerika Latin dan Afrika.

Saat ini Rusia menjadi pemain kunci energi dunia dari sektor gas alam ini dengan produksi sebesar 801,5 milyar m3 atau mencapai 40 persen. Untuk kawasan Amerika Utara pemain kunci adalah USA, Iran untuk kawasan Timur Tengah, kawasan Asia Pasifik oleh Indonesia dan Amerika Latin oleh Argentina.

Untuk energi gas alam masa depan, Timur Tengah menjanjikan prospek yang cerah. Hal ini dikarenakan cadangan terbukti dunia sebesar 180,238 trilyun m3 terbesar berada di kawasan ini dengan 72,977 trilyun m3 (45 persen) disusul Eropa Timur dan Amerika Utara

Kontribusi inilah yang menunjukkan dominasi dan kekuatan utama negara-negara Timur Tengah dan menjadikan posisi tawar yang menguntungkan utamanya dalam pemenuhan kebutuhan energi minyak dan gas dunia.

Posisi tawar inilah bisa menjadi senjata yang ampuh dalam permainan geopolitik global. Krisis politik di beberapa negara pemain energi utama –terutama Iran dan Venezuela, serta ditambah dominasi dan arogansi USA, ditakutkan akan mengulangi sejarah kelam konflik Arab-Israel terdahulu. Pada awal tahun 2007 saja, harga minyak mentah mendekati tingkat rekor tertingginya dalam beberapa tahun terakhir belakangan ini hingga mendekati rekornya senilai 70,85 dolar AS per barel.

George Soros, yang termasuk pemodal global pun menyimpulkan bahwa tahun 2006 yang telah lewat adalah tahun berbahaya sepanjang menyangkut minyak. Sekarang ini sedikit ekonom yang siap memprediksi penurunan harga minyak selama 2007, bahkan prediksi sejumlah analis ekonomi bahwa angka 70 dolar AS per barel dapat menjadi “harga dasar” mulai awal tahun 2007 terbukti saat ini. Dan AS (baca Bush), mungkin telah melihat fenomena tersebut dan bersiap mengantisipasi bahwa minyak dan gas akan menjadi senjata politik ampuh di masa depan.

Kategori: energi