Fenomena semburan lumpur panas (hot mud flow) di Sidoarjo telah menimbulkan dampak yang luas yang tidak diperkirakan (intangible) sebelumnya. Pemblokiran jalan tol, jalan arteri, dan rel kereta api oleh ribuan warga Perumahan Tanggulangin Anggun Sejahtera (Perumtas) 1 di kawasan Porong Sidoarjo selama 2 hari beberapa waktu yang lalu, yang mengakibatkan ekonomi jawa timur terguncang, merupakan salah satu contoh paling aktual. Sebagian pengamat memperkirakan kerugian perokonomian Jatim akibat blokade korban lumpur tersebut mencapai 2 trilyun (PDRB Jatim per hari sekitar 1 trilyun), atau setara dengan seperempat kerugian banjir Jakarta beberapa waktu yang lalu. Dampak ini kedepan sulit diperkirakan dan dihitung karena menyangkut aspek yang lebih luas (sosial dan politik, termasuk psikologi). Sedangkan dampak langsung yang terkait dengan lumpur Sidoarjo adalah terendamnya rumah warga termasuk terendamnya jalan tol Porong Gempol di sekitar pusat luberan lumpur. Dampak tidak langsung adalah dampak yang terkait dengan matinya atau terganggunya perekonomian akibat luberan lumpur tersebut, seperti hilangnya mata pencaharian penduduk karena sawahnya terendam lumpur, hilangnya pekerjaan penduduk akibat pabriknya terendam, terganggunya aktivitas distribusi barang menuju kota Surabaya akibat jalan tol ditutup dan sebagainya.Itulah beberapa dampak lingkungan sosial yang diakibatkan oleh kecerobohan dengan dalih efektifitas dan ekonomis dari kegiatan eksplorasi pertambangan migas.
Terlepas dari prokontra yang masih mengemuka -apakah ini kesalahan Lapindo atau bencana alam, yang sesegera mungkin harus dilakukan adalah mau dikemanakan buangan lumpur ini. Pengelolaan buangan Lumpur seyogyanya dilakukan lebih holistik dan komprehensif dengan mempertimbangkan dampak-dampak tersebut di atas. Pengelolaan ini mulai saat ini dimana lumpur masih terus mengalir, -belum bisa diprediksi kapan berakhir- dan pasca semburan lumpur, -jika kedepan semburan berhenti. Namun demikian yang paling utama adalah bagaimana menangai dampak sosial, menyelamatkan manusia dari bencana ini. Inilah tujuan utama dari pengelolaan semburan lumpur sidoarjo ini.
Pengelolaan secara holistik tetap mempertimbangkan kejadian dan kondisi yang selalu berkembang dan berubah setiap saat. Seperti pendapat beberapa pakar, substansi dari penanganan LUSI selama ini haruslah mencerminkan, pertama, bahwa tujuan utama setiap tindakan yang diambil adalah menyelamatkan manusia dari kejadian ini; kedua, pemetaan luasan genangan lumpur, (bisa saja daerah antara sungai Porong dan Sungai Kali Mas) untuk mengevakuasi semua warga masyarakat dan infrastruktur keluar dari daerah yang dipetakan akan tergenang lumpur; ketiga, kejadian munculnya kombinasi mud volkano-yydrothermal (tanpa melihat apa yang menyebabkannya) ini baru pertama kali didunia. Sehingga tidak ada satupun di dunia ini yang memiliki pengalaman dalam hal menanganinya.
Keempat, semua tindakan baik menutup maupun mencegah dampak (permukaan) memang memerlukan penelitian. Tetapi keduanya diburu-buru dan saling berkejaran. Meneliti bisa dilakukan sambil menangani. Hanya yang harus diperhatikan adalah setiap penanganan harus didasari alasan ilmiah yang tepat. Apapun alasannya harus ada dan dapat dijelaskan secara terbuka; kelima, Proses ini sangat dinamis, gejala-gejala di awal kejadian, dimasa transisi (minggu-minggu awal), serta kondisi saat ini sudah sangat berbeda. Misal, jumlah lubang semburan pada waktu awal, ukuran diameter lubang yg berkembang, volume dan jenis material yang keluar dari dalam lubang , kondisi bawah permukaan (suhu, tekanan, rekahan) dan lain-lain. Termasuk pula kejadian lain adalah munculnya lokasi semburan baru di rumah warga sekitar lokasi semburan utama; keenam, Pelibatan semua stakeholder, eksekutif (pemerinta pusat dan daerah), legislatif, perusahaan, tokoh masyarakat, NGO, ahli/akademisi, dan masyarakat sekitar semburan lumpur sebagai objek sekaligus subjek (dari berbagai sumber)
LUSI (lumpur sidoarjo) yang terdiri dari 30% padatan dan 70% air koloid memang membutuhkan pengelolaan yang spesifik. Padatan yang 30% ini sudah mengendap dan tidak akan bisa mengalir. Alternatif pembuangan lumpur jika akan dibuang ke laut harus diangkut dengan mobil, misalnya disedot yang akan tersedot hanya yang dekat dengan sedotannya saja. Jika dialirkan melalui ke kali Porong maka akan terjadi sedimentasi DAS. Saat ini kali Porong debitnya sangat sedikit, banyak kelokan sehingga endapan bisa menggunung. Akibatnya adalah sangat fatal, terutama bagi Surabaya dan Mojokerto, karena kali Porong ini disiapkan untuk sodetan banjir Sungai Brantas. Surabaya, Mojokerto, bahkan Sidoarjo sendiri hingga Pasuruan harus bersiap-siap menerima limpasan banjir Sungai Brantas.
Akibat lainnya jika dialirkan kelaut, dalam hal ini selat Madura, aliran permukaan akan membuat sedimentasi dan sangat menggangu jalur pelayaran. Jika dibuang kelaut bisa memanfaatkan pipa dengan kedalamaan di bawah daerah “thermoklin” agar Lumpur tidak naik ke permukaan, karena jika ini terjadi, air lumpur akan membuat selat madura menjadi keruh. Selat madura saat ini menjadi menjadi tumpuan banyak orang untuk mata pencaharian, bahkan sudah sering terjadi carok di tengah-tengah selat antara warga Pasuruan-Probolinggo dengan nelayan Madura gara-gara merebutkan wilayah tangkapan ikan. Yang menarik juga di selat Madura adalah karena adanya ikan “anchofish” yang disukai ikan hiu tutul yang akan masuk. Indikasinya adalah beberapa kali ikan hiu tutul telah ditangkap nelayan pantai Kenjeran. Sehingga dalam pembuangan lumpur ini harus lebih bijak mempertimbangkan fator sosial ini dan harus selalu konsultasi dengan pihak dan warga masyarakat daerah yang akan terkena dampak.
Kemungkinan terbaik, dari yang terburuk, adalah dibuang ke tambak-tambak di pantai sebelah timur Sidoarjo sehingga bisa dijadikan reklamasi pantai. Saat ini dalam keadaan darurat, sehingga harus segera diambil tindakan pengelolaan. Apapun pilihan pengelolaan pembuangan lumpur, apakah diendapkan di kali Porong, di laut ataukah di tambak-tambak, harus tetap mempertimbangkan daya dukung lokasi buangan lumpur agar keberlanjutan fungsi-fungsi lingkungan yang semula ada baik di DAS, laut/selat Madura maupun tambak masyarakat tetap terjamin dengan keberadaan pengelolaan lumpur tersebut, walaupun ada kontroversi nantinya.
”Lusi” adalah pelajaran berharga bagi industri pertambangan migas nasional dan di belahan bumi manapun. Bahwa ada keterkaitan (interaction) yang erat antara kegiatan eksplorasi migas dengan dampak lingkungan yang harus diantisipasi dan dikelola. Keterkaitan ini adalah dalam setiap proses eksplorasi harus selalu memperhitungkan dampak bagi lingkungan hidup sekitar eksplorasi dengan setiap pilian aplikasi teknologi eksplorasi.Selain itu setiap kegiatan eksplorasi harus mengedepankan harmonisasi kegiatannya dengan faktor-faktor lingkungan dan sosial sekitar lokasi eksplorasi. Terlebih eksplorasi sumur Lapindo berada dekat -di tengah-tengah- pemukiman. Sehingga bisa saja kegiatan ini merusak suasana lingkungan sekitar. Dan dengan adanya kasus semburan ini, maka rusaklah harmoni tersebut. Karena tidak bisa disangkal bahwa adanya saling ketergantungan (inter-dependention) antara kegiatan eksplorasi dengan kondisi lingkungan dan sosial secara timbal balik. Ketergantungan ini adalah bagaimana tetap terjaminnya keberlangsungan proses eksplorasi jika kondisi sosial-lingkungan sekitar lokasi eksplorasi juga mendapatkan manfaat yang sama. Misalkan dengan terbukanya peluang usaha baru dengan keberadaan ekpolrasi migas ini. Selain itu, adalah bagaimana meningkatkan kapasitas dan pengetahan masyarakat akan pentingnya migas bagi sumber devisa negara. Pihak industri sangat berkepentingan dengan al ini dan sangat tergantung bagaimna persepsi masyarakat akan kegiatan eksplorasi ini. Kedepan ketergantungan ini harus diatasi, dengan adanya kasus ini maka dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi yang semakin meningkat, harus ada diversifikasi energi terbaharukan. Harus ada keragaman (diversity) sumber energi primer selain migas. Misal dengan mengoptimalkan energi matahari, angin, arus laut yang nyata-nyata adalah sumber kekayaan energi tak terbatas Indonesia.
Terakhir, yang lebih penting segera dilakukan sekarang adalah, penyelamatan ribuan jiwa manusia dan harta bendanya, yang kemungkinan terburuk adalah seluruh daerah antara delta Sungai Porong dan Kali Mas, dikarenakan telah terjadinya rrekahan baru dan semburan baru sampai dengan radius beberapa kilometer dari pusat semburan Lumpur. Atau jika tidak, pasti kita akan saksikan kembali aliran lumpur akan terus mencari lokasi endapan baru di desa-desa sekitar pusat semburan lumpur. Sidoarjo telah berkubang lumpur kini. Masih tetap saja kita berdebat ini salah siapa, dosa siapa, bencanakah atau kesalahan Lapindo?(coba dengarkan kembali syairnya lagu Ebiet G Ade). Ataukah kita tunggu saja dan saksikan bersama peristiwa kepunahan massal (mass extinction). Teori ini mungkin saja dapat terjadi dengan adanya sebuah teori “Impact from the Deep”, kepunahan masal yang datang dari Bumi sendiri. Dimana teori diilhami oleh judul sebuah film “Deep Impact” yang menceritakan bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memusnahkan kehidupan di Bumi. Wallahualam.
1 response so far ↓
korbanlapindo // April 22, 2008 pada 5:19 pm
memang ngeri, tapi itulah yang tengah terjadi. namun demikian, pemerintah ternyata sangat cuek menanggapi masalah ini, dan membiarkan korban dalam ketidak pastian
dasar..