Skenario Hutan Kita Esok..
SKENARIO 1: NYIUR MELAMBAI. Minggu pertama pada bulan Januari 2020, Buce seorang wisatawan Belanda tengah menikmati pemandangan di kaki gunung Parangro sambil menjalani perawatan kanker kronis. Karena obat-obatan ini ditemukan di hutan tropis Indonesia. Ia tengah membaca Majalah National Geographic dimana pada sampul depan tertulis: ”Indonesia : No. 1 Healty Indexs in The world”. Saat itu, indeks angka kesehatan penduduk Indonesia adalah tertinggi di dunia berdasarka rilis WHO. Dia adalah satu dari jutaan warga asing serupa yang memanfaatkan bahan-baan farmasi dari hutan Indonesia untruk berobat. Karena kualitas SDM Indonesia tinggi maka mampu mengolah sendiri.
SKENARIO 2: MENYIRAM GURUN. Akhir Desember 2010, saat liburan sekolah, suatu siang Boby bersama teman-temannya sedang antri untuk masuk kawasan wisata Ujung Kulon. Mereka adalah satu dari beribu-ribu antrian wisatawan lain, karena tidak ada lagi alternatif wisata alam Indonesia. Hutan telah habis, species asli Indonesia telah punah. Mereka datang dalam rangka studi wisata. Padahal paginya hari itu baru sekitar 5 kelompok siswa yang tengah antri, tapi dalam hitungan jam tempat tersebut tela dipenuhi manusia. Ada yang tujuan sama dengan Boby dan kawan-kawannya, ada yang memang anya untuk mencari udara segar. Udara Panas sekali, walaupun ada water canon dan beberapa helikopter menyemprotkan air untuk mendinginkan suasana, tetap saja tidak bisa meredakan suasana panas siang itu. Ujung kulon adalah satu diantara 2 wisata alam Indonesia selain Heart of Borneo. Boby tengah meliat tayangan TV di hanphonenya, dimana kondisi yang sama bakan lebih parah juga terjadi di pintu masuk Hutan Lindung Hearth of Borneo.
SKENARIO 3: MEMBAKAR JERAMI . Saat itu awal tahun 2020, Jakarta tenggelam total. Tepatnya pada tanggal 31 Januari 2020, hujan seminggu berturut-turut telah membuat jakarta hilang. Banjir dari Bogor sudah 50 kali lipat dari tahun 2007. Banjir juga telah menghanyutkan wilayah Bekasi dan Tangerang. Budi, saat itu tengah menonton TV di daerah Solo, diatas loteng rumah tingkat 3 nya, karena Sungai Bengawan Solo juga sedang marah dengan telah menenggelamkan sebagian Surakarta. Budi baru saja mengambil jatah makan nasi bungkus dari Tim SAR yang lewat. Saai itu hutan di seluruh Jawa telah habis, dan saat musim hujan seperti ini, semua daerah dilanda banjir. Ia juga melihat tanah longsor dimana-mana, dan tidak ada yang bisa dilakukan. Saat itu Indonesia tengah dikucilkan dari pergaulan Internasional, karena telah dengan sengaja melanggar konvensi Internasional untuk menyelamtkan hutan tropis. Pemerintah terlalu percaya diri dengan visi energi bahan bakar nabatinya dengan membuka seluruh hutan untuk ditanmai sawit dan jarak. Saat itu ibukota Indonesia untuk sementar pindah ke Yogjakarta, karena Jakarta tenggelam disertai badai tsunami di pantai utara Jakarta. Presiden menyatakan SIAGA satu Indonesia dan sampai kapan dan berapa lama tidak bisa dipastikan. Hanya ramalan BMG menyebutkan dalam 2 (dua) bulan kedepan cuaca sangat ekstrim dan tidak bersahabat.
SKENARIO 4: MEMBELAH SAMUDERA. Gentho, seorang mantan residivis, tengah menyandera George seorang warga asing AS. Hari itu Senin tanggal 23 juni 2025. Ia berada di pedalaman hutan belantara Kalimantan. Begitulah bunyi sekilas Info dari RCTI. Namun di belahan pulau lain tepatnya Sumatera, ditayangkan juga beberapa perkampungan transmigran tengah dilalap si jago merah. Saat itu musim kemarau panjang, luasan areal hutan Indonesia yang 30 % membuat pemerintah tidak sanggup untuk memobilisasi SDM serta keterbatasan peralatan pencegahan kebakaran. Ditambah lagi akses masuk ke hutan sangat sulit, karena manejemen landscape hutan tidak pernah dibenahi, kanal-kanal dan jalan masuk tidak dibuat sehingga titik-titik api cepat sekali merambat luas.
Dibalik Skenario itu…
• Skenario 1: Nyiur Melambai. Pada skenario ini konversi lahan dihentikan yang dikombinasikan dengan kemampuan SDM dan modernisasi standart dan peralatan pencegahan kebakaran sehingga huta tropis Indonesia lestari dengan ditemukannya berbagai bahan farmasi obat-obatan dari hutan Indonesia. Pemasukan negara dari hutan lebih tinggi dibandingkan dengan membuka kebun sawit dan tambang. Lahan hutan abadi mencapai 30 % luasan Indonesia dengan dikombinasikan pemanfaatan energi matahari dan angin.
• Skenario 2: Menyiram gurun. Pada skenario ini dengan adanya kemajuan teknologi maka terjadi peningkatan kualitas SDM dan modernisasi peralatan pencegahan kebakaran, karena luasan hutan tinggal sedikit kira-kira hanya tinggal Kalimantan Tengah dan Ujung Kulon karena konversi hutan terus berlanjut. Sehigga dengan kemampuan teknologi dan kualitas tidak akan berguna apa-apa.
• Skenario 3: Membakar Jerami. Pada skenario ini konversi lahan terus berlanjut, bahkan nyaris habis, sumber cadangan air habis, cadangan tambang habis, pemanasan global, ekonomi terpuruk karena pemasukan negara tidak ada lagi sehingga kualitas SDM dan modernisasi pencegahan hutan tidak bisa dilakukan. Daratan Indonesia semua seperti lauatan pasir Ginung Bromo, Laut tercemar bahan berbahaya, sehingga teknologi dan dana habis untuk desalinasi air minum.
• Skenario 4: Membelah Samudera. Pada skenario ini konversi lahan dihentikan, tetapi tidak ada peningkatan SDM dan modernisasi peralatan, sehingga jika terjadi kebakaran tidak ada yang bisa dilakukan. Indonesia berlimpah hutan tapi hutan belantara tidak tergarap. Akibatnya banyak separatis dan teroris bersembunyai di hutan-hutan ini. Pemerintah terpaksa menambah anggaran untuk militer guna menjaga keamanan ekstra ketat.
Mana yang kita sedang perbuat untuk hutan kita???
0 responses so far ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.