Selepas Perang Dunia II yang memunculkan kekuatan negara baru sebagai negara “adi daya” karena faktor kemenangan dan kekuasaan yang diperole pasca Perang Dunia II tersebut. Persaingan terbuka akhirnya timbul antara Blok Amerika Serikat dan sekutunya dengan Uni Soviet (Ruasia) dan sekutunya. Pergeseran kekuatan ini dikenali sebagai Perang Dingin kerana ia tidak melibatkan pertempuran bersenjata secara langsung antara kekuatan besar (perang “panas”) secara besar-besaran. Perang Dingin dijalankan melalui tekanan ekonomi, bantuan terpilih, pergerakan diplomatik, propaganda, pembunhan, operasi ketentaraan tahap rendah dan perang provokasi sepenuhnya antara 1947 hingga kejatuhan Uni Soviet pada 1991. Istilah ini dipopulerkan oleh penasihat politik AS Bernard Baruch pada April 1947 semasa perdebatan mengenai Doktrin Truman yang menghendaki perluasan jaminan sosial, penghapusan pengangguran, pembagunan perumahan rakyat dan pembagunan kembali daerah-daerah kota yang sudah rusak.
Perang Korea, Krisis Kuba, Perang Vietnam, Perang Afghanistan, dan kudeta kekuasaan yang dibantu CIA teradap pemerintahan yang condong ke kiri, -karena berhubungan komunis, sosialis dan Rusia-, seperti di Iran (1953), Guetemala (1954) dan Chile (1973) merupakan kejadian dimana ketegangan berkait dengan Perang Dingin mengambil bentuk dalam peningkatan dan perlombaan senjata. Dalam perlombaan senjata itu, terutamanya Amerika Serikat, beroperasi sebagian besarnya dengan membekalkan senjata dan uang kepada kelompok penentang dalam rangka menggangu dan mengurangi pengaruh Rusia di negara tersebut. Termasuk didalamnya konflik Arab-Isrel yang masih, –dan tetap-, bertahan hingga kini.
Pada tahun awal tahun 1970-an, Perang Dingin telah memunculkan pergaulan perhubungan antarabangsa menjadi semakin rumit dimana dunia dipecahkan kepada dua blok perasingan yang nyata. Satu ciri utama Perang Dingin adalah perlombaan senjata antara Uni Soviet dan NATO, terutamanya Amerika Serikat termasuk juga Inggris, Perancis dan Jerman Barat. Perlombaan ini berlaku dalam berbagai bidang teknologi dan militer yang menghasilkan banyak penemuan saintifik. Kemajuan revolusioner terutama dalam bidang rket, yang mendorong kepada perlombaan angkasa. Dan yang harius digarisbawahi adalah kebanyakan atau semua roket yang digunakan untuk meluncurkan manusia dan satelit untuk sampai ke bulan merupakan rekabentuk bidang kemiliteran. Bidang lain dimana perlombaan senjata berlaku termasuk jet tempur, pengebom, senjata nuklir, senjata kimia, senjata biologi, rudal anti pesawat maupn satelit pengintai dan banyak lagi teknologi. Semua bidang ini memerlukan keahlian tinggi dari segi teknologi dan pembuatan. Dalam kebanyakan bidang, negara Barat telah mampu menciptakan senjata dengan fungsi yang efektif, terutamanya disebabkan oleh ambisi kenkuasaan dan pengaruh kejayaan masa lalu disamping kepentingan ekonomi dan politik dalam mendukung kepentingan militer ini.
Akibatnya, negara-negara yang kurang mampu atau negara dunia ketiga menjadi lebih berdikari. Dan puncaknya adalah berdirinya Gerakan Nonblok tahun 1961 pada saat memuncak Perang Dingin. GNB lahir untuk mengimbangi pertarungan ideologis antara Blok Barat pimpinan Amerika Serikat dan Blok Timur pimpinan Uni Soviet.
Namun sejak runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, kekuasan dunia baru praktis di pegang oleh Amerika Serikat. Dengan kondisi seperti ini seharusnya, dunia menjadi lebih damai. Akan tetapi usai Perang Dingin berakhir, ternyata perang dan konflik bersenjata masih muncul di mana-mana. Harapan akan terbentuknya dunia yang lebih aman dan damai ternyata masih sulit diwujudkan. Dunia masih terus dilanda kekacauan bukan hanya oleh konflik bersenjata dan gelombang kekerasan yang merebak di mana-mana, tetapi juga oleh ketimpangan sosial ekonomi, kemiskinan, pengangguran dan krisis lingkungan hidup. Jika ketegangan di era Perang Dingin lebih dipicu oleh pertarungan ideologis antara kapitalisme dan komunisme, saat ini dunia dilanda oleh masalah ketimpangan ekonomi dan tatanan dunia yang tidak adil.
Dengan paham kapitalisme ini, Amerika Serikat sedang menjalankan misinya, yaitu “Amerikanisasi Dunia”. Terbukti dengan tekanan ekonomi dam militer apapun keinginan AS tercapai, terkecuali kegagalan AS di Perang Vietnam dan Somalia. Kemungkinan kegagalan ini akan terulang di Irak terlepas keberhasilannya menumbangkan musuh besarnya di Timur Tengah, Sadam Husain. Kapitalisme telah gagal membawa kesejahteraan dunia. Saat ini dibelaan dunia Timur Tengah dan Amerika Latin tengah bergelora perang melawan hegemoni AS dan doktrin kapitalismenya.
Perlawanan Bersama; Bersiap Menyambut Perang Baru
Ketegangan dunia saat ini lebih dilatar belakangi pada satu hal, sumber daya minyak bumi. Ketika tahun 2001 harga minyak dunia masih 30 dollar AS per barrel, soal ini masih belum menjadi kekhawatiran nyata. Namun, setelah harga minyak melewati 70 dollar AS per barrel pada awal tahun 2007, konstelasi politik global pun berubah.
Negara-negara yang memiliki cadangan minyak bumi merasa lebih “powerful” menghadapi negara-negara kekuatan utama dunia yang merasa terancam aksesnya. Akibatnya, yang terjadi saat ini adalah strategi yang saling mengancam, baik antarnegara, bahkan antarblok. Perseteruan antara AS (Barat) dan Iran misalnya, bukan semata dilandasi karena kekhawatiran Barat bahwa Iran akan memproduksi senjata nuklir. Yang lebih utama adalah karena Iran memiliki sumber daya minyak kedua terbesar di dunia dengan cadangan terbukti 136,27 milyar barrel terbesar kedua di dunia setelah Arab Saudi dengan kemampuan produksi 4,1 juta barrel per hari.
Michael T Klare yang analisisnya mengenai perang Irak begitu jitu kini juga meramalkan hal serupa terhadap Iran, antara lain dia meyakini invasi itu bukan karena adanya senjata pemusnah massal ataupun keterkaitan rezim Saddam Hussein dengan Al Qaeda, tetapi karena kepentingan minyak AS. Klare juga menuliskan, andaikan AS menginvasi Iran, itu adalah demi sebuah “perubahan rezim” yang dapat melindungi kepentingan minyak AS. Dan kebenaran analisa Klare ini pada bulan April 2007 telah diakui oleh Departemen Pertahanan AS, setelah Sadam Husein dieksekusi gantung.
Coba kita mengingat kembali pidato Bush ketika akan menginvasi Irak? “Bila semua ambisi senjata pemusnah massal Saddam Hussein terealisasi, implikasinya sangat luar biasa bagi Timur Tengah dan AS. Dipersenjatai dengan senjata teror dan menguasai 10 persen cadangan minyak dunia, Saddam Hussein mungkin akan berupaya mendominasi seluruh Timur Tengah.”
Menurut Klare, jika kita mengganti kata “Saddam Hussein” dengan “para mullah Iran”, dan dengan penguasaan 12 persen cadangan minyak dunia dan 15 persen cadangan gas alam dunia maka akan memberikan ekspresi yang sempurna mengapa Bush bersiap untuk menginvasi Iran
Kita masih mengikuti bagaimana gigihnya Iran dalam menghadapi hegemoni AS dan Barat. Namun yang kini juga terlihat adalah sebuah “perlawanan bersama” dari negara-negara yang memiliki cadangan minyak bumi untuk menghimpun kekuatan dan meningkatkan posisi tawar mereka terhadap AS dan sekutunya.
Pada Mei lalu Wapres AS Dick Cheney di depan para pemimpin negara-negara bekas Uni Soviet di Kiev, Ukraina, menuduh Rusia telah “menggunakan minyak dan gas bumi untuk mengintimidasi para tetangganya”. Cheney merujuk pada perseteruan Ukraina (negara bekas Uni Soviet) dengan Rusia soal harga gas. Rusia sempat menghentikan pasokan gas ke Ukraina ketika Kiev berkeras tak mau menerima kesepakatan harga baru.
Tindakan ini dikecam negara-negara Barat. Namun, Rusia juga ingin “memberi pelajaran” pada Ukraina tentang siapa yang menjadi tuan di kawasan itu. Maklumlah, begitu Victor Yuschenko yang sangat pro-Barat terpilih menjadi PM Ukraina, kebijakannya sangat berorientasi pada AS dan barat. Ia “lupa” secara geopolitik, Ukraina sangat bergantung pada Rusia.
Perseteruan ini berlanjut panjang. Dengan dukungan AS, Azerbaijan, Georgia, Moldova, dan Ukraina meluaskan aliansi mereka (GUAM) dengan tujuan untuk mengurangi ketergantungan energi terhadap Rusia. Negara-negara ini akan membangun pipa minyak tanpa melewati Rusia, yaitu dari Laut Caspia ke Azerbaijan, kemudian ke Georgia dan langsung ke pasar negara-negara Barat. Jalur ini dinamakan jaringan Baku-Tbilisi-Ceyhan.
Bagi Moskwa, “kunci” dalam aliansi ini adalah Azerbaijan yang memiliki sumber daya gas alam melimpah. Oleh karena itu, Rusia berupaya “mengikat” Azerbaijan dengan beragam tawaran, termasuk keanggotaan dalam kesepakatan keamanan Rusia-China (ketiga negara lainnya sudah ditarik NATO). Azerbaijan cukup cerdas untuk membangun keseimbangan hubungan dengan Barat dan Rusia, sehingga negara itu memperoleh keuntungan dari kedua sisi.
Perlawanan sistematis juga datang dari “musuh-musuh” lama AS di Amerika Latin. Venezuela, Bolivia, dan Kuba, mengeratkan tangan mereka untuk menentukan masa depan Amerika Latin. Terpilihnya Evo Morales sebagai Presiden Bolivia menjadi “mimpi buruk” AS yang berangan-angan ingin “mendemokratisasi” halaman belakangnya dengan resep pasar bebas.
Bolivia sejak awal Mei lalu menasionalisasi seluruh perusahaan minyak dan gas alam di negara itu, di mana seluruh perusahaan energi asing harus menyetujui penyaluran seluruh penjualan hasil produksinya melalui Pemerintah Bolivia, atau segera angkat kaki.
Sehari sebelum pengumuman nasionalisasi, Morales bersama Presiden Venezuela Hugo Chavez dan Fidel Castro dari Kuba bertemu di Havana untuk menandatangani “kesepakatan perdagangan sosialis”. Mereka bercita-cita “menyatukan Amerika Latin” melalui jaringan pipa minyak, dan menyebut aliansi ini sebagai sebagai Poros Kebaikan (Axis of Good), sebuah ledekan yang menohok Washington.
Meskipun tidak semua negara berpemerintahan kiri di Amerika Latin setuju dengan langkah-langkah nasionalisasi Bolivia (seperti Cile dan Peru), keberhasilan Morales telah memberi inspirasi tentang “kebangkitan melawan hegemoni AS” di seluruh kawasan. Hal ini akan berpengaruh pada para kandidat pemilu presiden di negara-negara Amerika Latin dalam meraih simpati rakyat, apakah mereka pro AS (yang diplesetkan menjadi pro-imperialisme), atau pro-sosialisme (pro-rakyat).
Para analis mengatakan, pergeseran yang terjadi di Amerika Latin ini karena AS terlalu lama “mengabaikan” kawasan ini setelah serangan 11 September 2001, dan kemudian terkooptasi oleh isu terorisme dan Timur Tengah. Namun, alih-alih melakukan pendekatan untuk merebut simpati, AS menerapkan pendekatan tangan besi.
AS menyikapinya dengan mengumumkan larangan penjualan senjata ke Venezuela, yang merupakan eksportir minyak nomor lima terbesar di dunia dan salah satu pemasok minyak terbesar bagi AS, dengan alasan “Venezuela tidak kooperatif dalam memerangi terorisme dan telah membahayakan stabilitas kawasan”. Washington mengumumkan embargo tersebut bersamaan dengan pengumuman pemulihan seluruh hubungan AS dengan Libya. Situasinya pun dibuat lebih dramatik, yaitu hanya sehari sebelum Hugo Chavez bertemu Moammar Khadafy di Tripoli.
Kini perusahaan-perusahaan minyak AS dan Eropa mulai berkompetisi untuk merebut akses ke Libya . Menurut Asisten Menlu AS David Welch Ini (sikap AS terhadap Libya) bisa menjadi contoh bagi Iran. Kepentingan minyak AS di Timur Tengah diyakini menjadi pertimbangan utama Washington untuk berbaikan dengan Libya, terlebih dengan meningkatnya ketegangan politik dengan Iran, situasi yang tak stabil di Irak, dan kondisi memanas antara Israel dan Palestina.
Dalam pidato kenegaraan 31 Januari 2007, Presiden George W Bush mengatakan, Pemerintah AS berencana mengurangi ketergantungan minyak pada Timur Tengah sampai 75 persen tahun 2025 dengan memfokuskan pada bahan bakar alternatif, seperti etanol dan biodiesel.
Beragam tanggapan muncul atas ajakan Bush ini. Ada yang pesimistis tapi tak sedikit yang optimistis. Menurut Statistik OPEC (2005), total impor minyak AS mencapai 60 persen, namun hanya sedikit yang berasal dari Timteng (beturut-turut lima pengimpor terbesar AS adalah Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria). Artinya, mengurangi ketergantungan dari Arab Saudi tidak akan menghapus ketergantungan AS terhadap pasokan minyak asing. Bahkan bila AS menghentikan total impor dari Timur Tengah pun, hal itu akan mendorong instabilitas politik di kawasan, karena harga minyak sangat terkait hal itu.
Namun, gagasan Bush untuk menggunakan etanol dinilai sudah pada arah yang tepat untuk jangka panjang. Saat ini industri etanol AS menghasilkan sekitar 9,5 miliar liter gasolin setiap, masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar sehari-hari di AS. Pihak yang optimistis menilai, penggunaan biodiesel bisa menggantikan 10-15 persen penggunaan total gasolin di AS, sama dengan menghapus 75 persen impor minyak dari Timur Tengah. Akan tetapi kebijakan ini mendapat tantangan keras dari kelompok pemerhati lingkungan. Dikarenakan tanaman pengasil etanol jyaitu jagung, singkong maupun jarak penghasil biodiesel sangat merusak lingkungan karena jenis tanaman yang monokultur.
Apa pun langkah AS di masa depan yang berkaitan dengan kebutuhan energinya, akan berpengaruh terhadap kondisi global. Namun, jangan salah, bukan hanya AS yang sudah mengambil ancang-ancang, para pemimpin lain di dunia pun bersiap mengantisipasi bahwa minyak dan gas akan menjadi senjata politik ampuh di masa depan.
Seperti apa yang dikatakan Richard Haass dalam Newsweek, mulai kini latihan perang-perangan akan lebih banyak membahas tentang anjloknya pasokan minyak dan naiknya harga minyak global daripada pengerahan tank-tank dan kendaraan lapis baja menuju perbatasan. Maka bersiaplah menyaksikan Perang Teluk III dari Iran pasca keluarnya Resolusi 1747 PBB akibat kegigihan Iran mempertahankan Progam Nuklir Damainya. Dan bersiap juga menyambut spirit perang baru dari Amerika Latin dengan Revolusi Bolivarian-nya.
2 tanggapan so far ↓
Rita // Juli 25, 2007 pada 12:33 pm
Hy, gw Rita. Lagi nyari bahan skripsi tentang Rusia dan Ukraina. Mohon bantuannya…..:) Met kenal aj deh bwt smua.
Rifky // Januari 30, 2009 pada 2:38 pm
Apa sih pengertian yang sebenarnya tentang politik bintang pada masa perang dingin ?