Lembaga Pengembangan Profesi Teknologi Mahasiswa Islam

Geopolitik Timur Tengah

April 8, 2007 · 1 Komentar

ENERGI MASA DEPAN DI TIMUR TENGAH

“Minyak bumi dan gas alam, sungguh dan Timur Tengah adalah pemain kunci energi masa depan. Maka tidak heran secara geopolitik kawasan ini sangat strategis dan konflik berkepanjangan di kawasan akan senantiasa ‘diciptakan’.”

Oleh : Suwardi

Presiden AS, George W Bush, dalam pidato kenegaraan 31 Januari 2007, mengatakan bahwa Pemerintah AS berencana mengurangi ketergantungan minyak pada Timur Tengah sampai 75 persen tahun 2025 dengan memfokuskan pada bahan bakar alternatif, seperti etanol dan biodiesel.

Apa dalam kepala Bush sehingga ia berani sesumbar demikian? Bukankah ia ‘berteman’ dengan Arab Saudi untuk minyak? Juga telah menyerang Afghanistan bagi keamanan pasokan minyak? Menyerbu Irak, (dan sebentar lagi Iran) juga ‘dengan dalih minyak’?

Menurut Statistik OPEC (2005), konsumsi minyak USA mencapai 20,17 juta barel perhari dari total konsumsi dunia yang mencapai 77,52 juta barel per hari atau hampir sepertiga kebutuhan minyak dunia. 74,6 persen kebutuhan minyak USA adalah impor. Walau hanya sedikit memang yang berasal dari Timur Tengah (beturut-turut lima pengimpor terbesar AS adalah Kanada, Meksiko, Arab Saudi, Venezuela, dan Nigeria), namun dengan memanasnya hubungan dengan kelompk kiri Amerika Latin yakni Venezuela, maka AS tetap membutuhkan Arab Saudi dan Timur Tengah khususnya. Apalagi Negara-negara tersebut adalah sesama anggota OPEC, dan solidaritas OPEC bisa menjadi kunci sebagaimana boikot terhadap Israel saat terjadi konflik Arab-Israel tahun 1970-an. Inikah yang ditakutkan USA, -sentimen anti USA)?

Ladang Minyak dan Gas Masa Depan

Masih dari Statistik OPEC (2005), produksi minyak OPEC sebesar 42,7 persen dari produksi minyak dunia, dimana keseluruhan Timur Tengah sendiri mencapai 40 persen dari produksi dunia, dengan tingkat ekspor menguasai 50,9 persen pasar ekspor minyak dunia. Sementara dari sisi cadangan terbukti (proven) minyak dunia sebesar 1,15 triliyun barel, OPEC masih mempunyai cadangan terbukti diatas 78,4 persen dunia yaitu sebesar 904,25 milyar barel, dan kawasan Timur Tengah memilki cadangan terbukti minyak paling besar yaitu 742,68 milyar barel (75 persen). (disusul berturut-turut Amerika Latin, Afrika, Eropa Timur, Asia Pasifik, Amerika Utara dan Eropa Barat).

Sementara itu, gas alam sebagai bagian dari migas saat ini mulai dikembangkan di negara-negara Timur Tengah dan OPEC. Pada awal berdirinya, share produk gas alam OPEC hanya 3 persen dari produk gas alam dunia. Saat ini (2005), share produk gas alam OPEC sudah menembus angka 17,6 persen sebesar 498,375 milyar m3 dari produk gas alam dunia sebesar 2,836 trilyun m3. Produksi tertinggi gas alam masih dari wilayah Eropa Timur Rusia, disusul Amerika Utara, Asia Pasifik, Timur Tengah, Eropa Barat, Amerika Latin dan Afrika.

Saat ini Rusia menjadi pemain kunci energi dunia dari sektor gas alam ini dengan produksi sebesar 801,5 milyar m3 atau mencapai 40 persen. Untuk kawasan Amerika Utara pemain kunci adalah USA, Iran untuk kawasan Timur Tengah, kawasan Asia Pasifik oleh Indonesia dan Amerika Latin oleh Argentina.

Untuk energi gas alam masa depan, Timur Tengah menjanjikan prospek yang cerah. Hal ini dikarenakan cadangan terbukti dunia sebesar 180,238 trilyun m3 terbesar berada di kawasan ini dengan 72,977 trilyun m3 (45 persen) disusul Eropa Timur dan Amerika Utara

Kontribusi inilah yang menunjukkan dominasi dan kekuatan utama negara-negara Timur Tengah dan menjadikan posisi tawar yang menguntungkan utamanya dalam pemenuhan kebutuhan energi minyak dan gas dunia.

Posisi tawar inilah bisa menjadi senjata yang ampuh dalam permainan geopolitik global. Krisis politik di beberapa negara pemain energi utama –terutama Iran dan Venezuela, serta ditambah dominasi dan arogansi USA, ditakutkan akan mengulangi sejarah kelam konflik Arab-Israel terdahulu. Pada awal tahun 2007 saja, harga minyak mentah mendekati tingkat rekor tertingginya dalam beberapa tahun terakhir belakangan ini hingga mendekati rekornya senilai 70,85 dolar AS per barel.

George Soros, yang termasuk pemodal global pun menyimpulkan bahwa tahun 2006 yang telah lewat adalah tahun berbahaya sepanjang menyangkut minyak. Sekarang ini sedikit ekonom yang siap memprediksi penurunan harga minyak selama 2007, bahkan prediksi sejumlah analis ekonomi bahwa angka 70 dolar AS per barel dapat menjadi “harga dasar” mulai awal tahun 2007 terbukti saat ini. Dan AS (baca Bush), mungkin telah melihat fenomena tersebut dan bersiap mengantisipasi bahwa minyak dan gas akan menjadi senjata politik ampuh di masa depan.

Kategori: energi

1 response so far ↓

  • agus setiawan // Juni 19, 2009 pada 11:57 pm

    Bisakah anda memberikan analisa ekonomi politik,
    dalam kaitan kandungan energi (minyak bumi dan gas alam) suatu kawasan atau negara dalam percaturan dunia internasional.
    Dalam pengertian, apakah arti penting atau manfaat politik apa yang akan diperoleh suatu negara jika ia mempunyai kandungan minyak bumi dan gas alam yang besar/

Tinggalkan sebuah Komentar